Lebih 6.000 Warga Kota Menganggur

Pekerja: Kepala Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi kota Jogjakarta Ch Lucy Irawati (kanan) didampingi Kabid Kesejahteraan dan Hubungan Industrial Diskopnakertrans Rihari Wulandari menjelaskan kondisi pekerja di kota Jogjakarta, di kantor dinas setempat, Jumat (27/4).

Pekerja: Kepala Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi kota Jogjakarta Ch Lucy Irawati (kanan) didampingi Kabid Kesejahteraan dan Hubungan Industrial Diskopnakertrans Rihari Wulandari menjelaskan kondisi pekerja di kota Jogjakarta, di kantor dinas setempat, Jumat (27/4).

JOGJA – Tak semua warga kota Jogjakarta beruntung. Sebanyak lebih kurang 6.100 orang usia produktif belum memperoleh pekerjaan. Alias masih menganggur. Dari sisi pendidikan, jumlah penganggur terbanyak lulusan setingkat SMA. Bisa sampai dengan 37 persen dari total jumlah penganggur tersebut. Itu angka catatan Diskopnakertrans kota Jogjakarta pada 2017. Versi BPS berbeda karena tolok ukur yang juga berbeda.

“Memang benar. Angka pengangguran dari kami akan berbeda jika disandingkan dengan itung-itungan BPS karena indikator yang kami pergunakan berbeda dengan milik mereka,” ungkap Kepala Diskopnakertrans (Dinas Koperasi UKM Tenaga Kerja dan Transmigrasi) kota Jogjakarta, Ch Lucy Irawati, di kantornya, Balaikota Jogjakarta, Jumat (27/4).

Lucy memastikan, angka yang dimiliki Diskopnakertrans akan berbeda dengan versi BPS (Badan Pusat Statistik). Beberapa perbedaan, misalnya usia produktif yang dipakai Diskopnakertrans adalah rentang usia 15 – 64 tahun. Sementara BPS menggunakan rentang usia 15 tahun ke atas, tanpa batasan. “Begitu pula, kami melakukan survei berdasarkan KTP, sementara BPS berdasarkan tempat tinggal tanpa melihat KTP-nya,” jelasnya.

Karena itu, imbuh Lucy, jumlah angka pengangguran versi BPS pasti akan selalu lebih besar jika dibandingkan dengan catatan yang dimiliki Diskopnakertrans. “Ya. Angka BPS pasti lebih besar jika dibandingkan dengan yang kami miliki. Selalu begitu. Pada 2016 juga begitu. Selisihnya bisa sampai separonya atau lima puluh persen,” paparnya lebih jauh.

Untuk memberikan tambahan pemahaman tentang dunia kerja kepada siswa-siswa setingkat SMA, Diskopnakertrans bekerjasama dengan sejumlah sekolah terutama SMK. “Kami datang ke sekolah-sekolah untuk memberikan pemahaman kepada mereka. Sedangkan untuk para pencari kerja secara umum, kami juga secara rutin menggelar job fair. Dan biasanya animo para pencari pekerja maupun perusahaan sangat besar,” tutur Lucy kemudian.

Berkaitan dengan Hari Buruh pada 1 Mei besok, para pekerja di Jogjakarta telah sepakat untuk tidak merayakannya dengan demonstrasi atau aksi turun ke jalan. “Mereka bersama dengan pihak pemerintah dan perusahaan akan bertemu bareng, di halaman Balaikota untuk merayakannya. Beberapa acara telah disiapkan, seperti senam bersama, nyanyi bersama, serta aneka lomba antar-pekerja,” jelas Lucy.

Kabid Kesejahteraan dan Hubungan Industrial Dikopnakertrans kota Jogjakarta, Rihari Wulandari mengemukakan, selain berbagai acara tersebut akan dilakukan pula aksi donor darah. Tak kurang dari 1.000 – 1.500 pekerja akan berpartisipasi pada acara di halaman Balaikota tersebut. “Mereka telah sepakat untuk tak turun ke jalan karena jika ada persoalan antara para pekerja dengan perusahaan, sudah ada salurannya sendiri,” katanya.

Jika terjdi permasalahan antara pekerja dengan perusahaan, lanjut Rihari, biasanya terselesaikan melalui proses mediasi. Hanya sedikit sekali yang kemudian harus sampai ke Pengadilan Hubungan Industrial. Selama 2017, tercatat ada 60 kasus yang dilaporkan ke Diskopnakertrans. Dari total kasus tersebut hanya dua kasus yang kemudian sampai harus ke PHI.

“Sebagian besar kasus antara pekerja dengan perusahaan menyangkut BPJS Tenaga Kerja dan pengupahan. “Sebagian besar perusahaan masih memberikan upah hanya berdasarkan UMK. Belum menggunakan Struktur Skala Upah yang mempertimbangkan masa kerja, pendidikan, keahlian pekerja, dan lain-lain,” papar Rihari seraya mengemukakan, catatan 2017 menunjukkan jumlah perusahaan di Jogjakarta ada sekitar 1.500-an dengan jumlah pekerja 66.600 orang. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan