Lembaga Ini Ingin Kembalikan Pamor Jogja

Sejumlah siswa LASP berlatih dasar-dasar teater di alam terbuka, di Kaliurang, Sleman, DIJ.

Sejumlah siswa LASP berlatih dasar-dasar teater di alam terbuka, di Kaliurang, Sleman, DIJ.

SLEMAN (jurnaljogja.com) – Pada era tahun 70 – 80-an Jogjakarta pernah dianggap sebagai barometer dunia seni. Salah satunya seni peran dengan menjamurnya sanggar teater. Seiring berjalannya waktu, peran Jogja itu makin surut. Ingin mengembalikan pamor Jogja sebagai barometer seni peran, sejumlah pelaku seni peran pun bersatu dalam satu wadah, LASP (Lembaga Akting Sitoresmi Prabuningrat).

“Selain untuk ‘ngopeni’ seniman daerah, kami mendirikan lembaga ini untuk menampung potensi seni peran yang ada di Jogja,” tutur seniman yang sudah puluhan tahun menggeluti seni peran, Hj Sitoresmi Prabuningrat, mengungkapkan alasan utama hingga ia dan beberapa seniman lain merasa perlu membentuk lembaga tersebut.

Begitu Sitoresmi melansir lembaga tersebut, respon masyarakat ternyata cukup bagus. “Ini yang membuat saya senang. Beberapa anak-anak hingga yang berusia dewasa sangat antusias mendaftar untuk mengikuti kelas peran yang kami buka,” ujar perempuan yang pada tahun 70-an silam pernah malang melintang dalam dunia teater, bersama Bengkel Teater dengan pentolan almarhum WS Rendra yang pernah menjadi suaminya itu.

Dari target 20 siswa, akhirnya LASP untuk angkatan pertama ini mampu menjaring 25 siswa. “Selama empat bulan kami akan mengasah potensi ataupun bakat mereka hingga menjadi pelaku seni peran yang mumpuni. Bukan hanya itu, melalui pelatihan yang diajarkan, kami juga ingin membangun karakter mereka sehingga nantinya tidak akan menjadi seniman instan,” ujar Sitoresmi kemudian.

Menurut Deddy Atmojo, yang juga menjadi salah seorang penggagas LASP, untuk angkatan pertama ini memang sengaja hanya merekrut siswa dalam jumlah tak terlalu banyak. “Entah nanti kalau LASP sudah berkembang sedemikian rupa. Yang jelas kami tidak memprioritaskan lembaga ini menjadi sebuah alat untuk mengeruk keuntungan,” katanya.

Untuk latihan perdana, LASP mengajak 25 siswanya ke Kaliurang, Sleman, DIJ. Selama seharian penuh, pada Minggu (5/11) lalu, sejumlah siswa tersebut diajak berlatih di alam terbuka. Melatih kepekaan indera mereka dalam merespon alam sekitar. Dengan mata tertutup beberapa siswa diajak meraba segala rupa benda yang ada di sekitar.

Setelah empat bulan berlatih, para siswa tersebut kelak akan diajak tampil dalam satu pementesan. Hingga saat ini, tercatat beberapa seniman yang telah bersedia untuk menjadi pendamping atau pengajar. Antara lain Ali DM, Sri Harjanto Sahid, Buyung, dan lain-lain. Sudah menyatakan bersedia pula Landung Simatupang dan Suharyoso.

“Melalui pelatihan dasar-dasar teater, kami berharap potensi dan bakat yang dimiliki anak-anak itu bisa terekspos secara optimal. Bisa saja nantinya mereka tidak akan terjun sebagai pelaku seni peran. Bisa saja kemudian ke tari, atau yang lainnya. Tidak apa-apa, yang penting potensi mereka tidak sia-sia karena sebenarnya potensi seni anak-anak Jogja itu sangat besar. Hanya selama ini tidak ada lembaga yang mewadahi,” tandas Sitoresmi. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan