Leptospirosis Bisa Lebih Mematikan

Adi Utarini dan Agus Sudrajat

Adi Utarini dan Agus Sudrajat

JOGJA – Beberapa penyakit, terutama DBD (Demam Berdarah Dengue) dan Leptospirosis, perlu lebih diwaspadai ketika musim penghujan telah tiba. Bahkan di kota Jogjakarta, leptospirosis yang disebabkan oleh kencing tikus itu lebih mematikan ketimbang DBD yang diakibatkan oleh gigitan nyamuk Aedes aegypti itu.

“Leptospirosis lebih mematikan karena jika terlambat ditangani bisa menyebabkan gagal ginjal,” ujar Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Jogjakarta, Agus Sudrajat SKM MKes, kepada wartawan, di balaikota setempat, Kamis (15/11), berkaitan dengan kemungkinan merebaknya penyakit DBD dan Leptospirosis memasuki musim penghujan saat ini.

Selama Januari hingga Oktober 2018, ini lanjut Agus, tercatat ada 87 kasus DBD dan dua orang penderita di antaranya meninggal dunia. Sementara Leptospirosis dalam kurun waktu yang sama, tercatat 17 kasus dan empat penderita di antaranya meninggal dunia.

“Mencermati data atau angka-angka tersebut, Leptospirosis tak boleh diremehkan. Terlebih, dari empat belas kecamatan yang ada di kota Jogjakarta, Leptospirosis tercatat ada di delapan kecamatan. Masing-masing Ngampilan, Wirobrajan, Gedongtengen, Kotagede, Kraton, Mantrijeron, Umbulharjo, dan Gondomanan,” papar Agus.

Jika mengalami demam dan panas tinggi, otot-otot bahkan seluruh tubuh terasa nyeri, sakit perut, mata menjadi merah, jangan disepelekan. Segera saja periksa ke tempat pelayanan kesehatan terdekat. “Jangan tunggu hingga dua hari karena jika terlambat penanganannya, bisa fatal akibatnya,” saran Agus.

Tapi yang lebih penting dari itu, imbuh Agus, menjaga lingkungan agar tetap bersih. “Kondisi lingkungan ini menjadi faktor penyebab paling penting. Jangan sampai lingkungan tidak bersih sehingga mengundang tikus dan menjadi tempat tumbuhnya bagi perundungan suatu penyakit. Dalam hal ini Leptospirosis,” tegasnya.

Untuk kasus DBD yang menurun jumlahnya sejak 2016, kemungkinan tidak terlepas dari upaya WMP (World Mosquito Program) Jogjakarta memutus mata rantai perkembangan nyamuk Aedes aegypti, dengan melepas nyamuk jenis tersebut yang ber-Wolbachia.

Nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia jika kawin dengan nyamuk Aedes aegypti biasa maka keturunan berikutnya tak akan bisa lagi menyebabkan penyakit DBD. Virus penyebab DBD akan mati atau tak bisa berkembang lagi sehingga nyamuk tersebut tak lagi berbahaya jika menggigit manusia.

Tapi, apakah penelitian atau penyebaran nyamuk Aedes aegypti ber-Wolbachia itulah yang menyebabkan penurunan drastis kasus DBD di kota Jogjakarta, pihak WMP belum berani memastikan. “Kami saat ini tengah melakukan studi akhir untuk mengetahui dampak penglepasan Aedes aegypti ber-Wolbachia pada skala luas terhadap penurunan kasus DBD di kota Jogjakarta,” ujar peneliti utama WMP Jogjakarta, Prof Adi Utarini.

Yang jelas, kegiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk) tetap harus digencarkan kendati pada Januari hingga Oktober 2018 ini hanya ditemui 87 kasus DBD di kota Jogjakarta, sementara pada kurun waktu yang sama pada 2017 tercatat 397 kasus DBD. “Kewaspadaan harus ditingkatkan, terutama di awal musim penghujan ini,” timpal Agus. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan