Limbah Radioaktif Tak Harus Jadi Ancaman

Baterai Nuklir: Kepala BATAN Djarot Sulistyo Wisnubroto (tiga kiri) didamping deputi, kepala PTLR, dan peneliti BATAN menjelaskan kemungkinan pemanfaatan limbah radioaktif menjadi baterai nuklir, di kampus STTN Jogjakarta, Kamis (19/4).

Baterai Nuklir: Kepala BATAN Djarot Sulistyo Wisnubroto (tiga kiri) didamping deputi, kepala PTLR, dan peneliti BATAN menjelaskan kemungkinan pemanfaatan limbah radioaktif menjadi baterai nuklir, di kampus STTN Jogjakarta, Kamis (19/4).

JOGJA – Melalui perlakuan yang tepat dengan syarat keselamatan yang ketat, limbah radioaktif tak lagi harus menjadi ancaman. Bahkan mengerikan seperti yang banyak dibayangkan orang selama ini. BATAN sedang menjajagi pemanfaatan limbah radioaktif untuk dijadikan baterai nuklir. Meski belum diketahui kapan menjadi kenyataan, diyakini baterai nuklir memiliki banyak keunggulan dibandingkan baterai kimia seperti yang selama ini kita pergunakan.

Ide pembuatan baterai nuklir, bermula dari banyaknya limbah radioaktif yang menumpuk di BATAN, yang tersimpan selama tiga puluh tahun terakhir. Berkaca dari pengalaman negara lain, ternyata limbah radioaktif itu masih bisa dikonversikan menjadi energi listrik. “Karena itu kami mempunyai pemikiran untuk mendaur ulang limbah tersebut. Kami saat ini terus mengkaji kemungkinan pemanfaatannya menjadi baterai nuklir,” ujar Kepala BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional), Djarot Sulistyo Wisnubroto, di Jogjakarta, Kamis (19/4).

Jika nantinya menjadi kenyataan, banyak kelebihan baterai nuklir dibandingkan baterai kimia. Paling tidak akan bisa bertahan lama, dalam hitungan puluhan tahun. Pun, tahan cuaca. Meski aspek keselamatannya harus dilakukan secara ekstra ketat. “Tidak heran yang kali pertama tertarik, kementerian pertahanan, karena sangat cocok dipasang di alat komunikasi tentara yang tak jarang harus berada di hutan-hutan terpencil selama berbulan-bulan,” imbuh Djarot di sela Rakor Pengolahan Limbah Radioaktif, di STTN (Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir) Jogjakarta.

Sekitar 15.000 rumah sakit, industri, perusahaan pengguna bahan radioaktif di Indonesia selama ini memang diharuskan mengirimkan limbahnya, atau bahan radioaktif yang sudah meluruh, ke BATAN. Atau, diekspor kembali ke negara asal. “Salah satu tugas BATAN memang menangani limbah radioaktif. Selain dari pihak luar, BATAN sendiri juga menghasilkan limbah. Semua limbah itu yang saat ini sedang dijajagi pemanfaatannya,” tandas Djarot.

Peneliti Bateri pada PTLR (Pusat Teknologi Limbah Radioaktif) BATAN, Sudaryanto mengemukakan, ide pemanfaatan limbah radioaktif menjadi baterai nuklir mengingat pula belakangan marak pernyataan beberapa pihak yang mengklaim mampu atau memiliki produk yang mereka sebut dengan baterai nuklir. “Kami ingin menunjukkan kepada masyarakat, pembuatan baterai nuklir tak semudah yang dibayangkan. Memerlukan persyaratan aspek keselamatan yang sangat ketat. Jadi, tidak bisa sembarangan,” katanya.

Peneliti BATAN, Winter Dewayatna mengemukakan, daya atau energi listrik yang dihasilkan baterai nuklir tergantung pada daya radiasi zat radioaktifnya. Makin pendek waktu paruh makin besar kemungkinan energi yang akan dihasilkan. Sebaliknya makin panjang waktu paruh akan semakin kecil daya radiasi atau energi yang dihasilkan. “Karenanya, untuk baterai nuklir biasanya dipilih zat radioaktif yang memiliki paruh waktu kurang dari seratus tahun,” paparnya.

Kepala PTLR Husein Zamroni menegaskan, pemanfaatan limbah radioaktif menjadi baterai nuklir belum bisa dipastikan kapan akan menjadi kenyataan. Yang dilakukan PTLR sekarang ini baru langkah awal. “Masih memerlukan kajian mendalam terutama menyangkut keselamatan. Masih terus dikaji bahan mana yang paling memungkinkan,” tuturnya.

Dengan demikian, belum bisa dipastikan pula kapan baterai nuklir itu bisa terealisir. “Limbah radioaktif yang ditangani PTLR selama ini, sebagian juga sudah dimanfaatkan. Terutama untuk pihak-pihak yang membutuhkan. Kebanyakan untuk pendidikan, penelitian. Itu pun harus melalui prosedur yang sangat ketat. Tidak sembarangan pihak bisa meminta begitu saja,” papar Husein lebih jauh.

Deputi Teknologi Energi Nuklir BATAN, Suryantoro menandaskan, pemanfaatan limbah radioaktif memang dibolehkan tetapi harus melalui prosedur yang sangat ketat karena risikonya juga tinggi. “Yang jelas, pemanfaatan atau daur ulang limbah tersebut harus ditujukan untuk hal-hal positif. Untuk tujuan damai. Misalnya saja, untuk dijadikan baterai nuklir tersebut,” ungkapnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan