Mahasiswa ISI Tolak HTI di Kampusnya

BANTUL (jurnaljogja.com) – Puluhan mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta dan sejumlah warga Sewon,  Bantul menggelar aksi damai menolak keberadaan sekelompok orang yang beralifikasi dengan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) di lingkungan kampus setempat. Aksi damai  yang juga diikuti para alumni ISI berlangsung tertib di halaman kampus setempat, Jumat (17/6).
Para pelaku aksi minta kepada pimpinan ISI  untuk segera menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang melarang segala aktivitas HTI di lingkungan kampus.  Aksi  dimulai usai sembahyang Jumat, berlangsung unik. Ada  yang sekujur tubuhnya dilukis burung garuda dengan cat tembok,  sebagai lambang negara, Pancasila.
Koordinator aksi,  Tomy menyampaikan,  visi ISI Jogjakarta  menjadi pelopor perguruan tinggi seni nasional yang unggul dan inovatif berazaskan Pancasila. Rumusan visi ini, tidak abai pada sejarah, dimana ISI  Jogjakarta merupakan kawah candradimukanya insan seni Pancasila. Dimana selalu menjunjung tinggi tradisi akademik yang baik, kebebasan ekspresi, serta menghargai tradisi dan budaya Nusantara. Hal ini tidak lepas dari peran negara, yang sejak awal mendirikan ISI Jogjakarta sebagai ikon dan tempat mendidik calon seniman merdeka dan berjiwa nasionalis.
Menurutnya, keberadaan para mahasiswa ini  diganggu oleh sekelompok orang yang berafiliasi dengan HTI,  sebuah  organisasi yang merupakan gerakan transnasional  mengusung Khilafah dan anti-Pancasila.  Keberadaan gerakan ini dirasakan menciptakan suasana yang tidak kondusif, karena tidak menghargai tradisi, atmosfer, karakter dan kearifan-kearifan lokal yang selama ini tumbuh subur di lingkungan kampus tersebut. Gerakan sekelompok orang eklusif ini dikawatirkan dalam waktu yang panjang  akan mengancam eksistensi negara. Karena itu, para pelaku aksi mendorong pimpinan ISI Jogjakarta segera menerbitkan Surat Keputusan (SK) yang melarang segala aktivitas HTI di lingkungan kampus setempat.
Para pengunjuk rasa juga mengajak  seluruh pemangku kepentingan di lingkungan kampus itu untuk melawan segala bentuk gerakan (individu atau kelompok) yang anti-Pancasila. Selain itu, mendorong aparat penegak hukum untuk mengusut lebih lanjut segala aktivitas HTI yang menentang Pancasila. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan