Mahasiswa Perlu Belajar Politik

Mahasiswa Baru: Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah, Dr Chairil Anwar, saat berbicara di hadapan 3.000-an mahasiswa baru UAD, peserta P2K, di kampus setempat, Selasa (4/9).

Mahasiswa Baru: Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah, Dr Chairil Anwar, saat berbicara di hadapan 3.000-an mahasiswa baru UAD, peserta P2K, di kampus setempat, Selasa (4/9).

JOGJA – Kampus maupun mahasiswa dilarang berpolitik praktis, memang. Tapi, sebagai mahasiswa, perlu belajar tentang politik. Paling tidak, menimba atau belajar tentang jiwa kepemimpinan. Terbukti, mahasiswa yang aktif di organisasi saat kuliah, banyak yang kemudian sukses ketika benar-benar masuk ke dunia politik setelah lulus.

“Jadi, jangan hanya bidang akademik saja. Bidang lain, termasuk soal politik, perlu juga dipelajari,” pesan Wakil Ketua Majelis Pendidikan Tinggi PP Muhammadiyah, Dr Chairil Anwar, di hadapan sekitar 3.000 mahasiswa baru UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, peserta tahap ke-2 P2K (Program Pengenalan Kampus), di kampus setempat, Selasa (4/9).

Dengan tema Jiwa Kepemimpinan dan Kebhinnekaan Di Era Milenium, Chairil juga mengemukakan, mahasiswa berpotensi besar untuk menjadi pemimpin di masa yang akan datang. Karena itu perlu belajar tentang politik. “Jangan takut belajar politik. Terutama untuk menyerap aspek atau jiwa kepemimpinan yang ada di dalamnya,” tegasnya.

Dengan belajar politik, atau tak hanya belajar di bidang akademik, akan banyak manfaat yang bisa diambil mahasiswa. Terutama tentang jiwa kepemimpinan, bahkan mengasah kreativitas. Terbukti sekjen beberapa partai politik saat ini berasal dari para aktivis Muhammadiyah yang semasa kuliah tergabung ke dalam IMM (Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah). “Penting. Terlebih ketika sebagian anak muda tak lagi suka pada partai politik seperti sekarang ini,” tutur Chairil kemudian.

Wakil Rektor Bidang Pengembangan Kemahasiswaan dan Pemberdayaan Alumni – WR III, Dr Abdul Fadlil MT mengemukakan, di UAD memang tidak ditabukan bagi mahasiswa untuk belajar berpolitik. “Ketika banyak kekhawatiran pemilu mahasiswa hanya akan menimbulkan kericuhan, di UAD ternyata berjalan aman-aman saja. Bahkan animo mahasiswa untuk mengikuti pemilu mahasiswa tahun ini jumlahnya meningkat,” katanya.

Bahkan di kehidupan organisasi mahasiswa UAD, mereka belajar mulai dari pembentukan komisi pemilihan umum, hingga pelaksanaan coblosan dan penghitungan suara. “Banyak pelajaran yang bisa dipetik dari belajar berpolitik di kampus semasa mahasiswa,” papar Fadlil lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan