Mahasiswa UII Latih Siswa Difabel Berwirausaha

 IMG_20170914_185131
Tim mahasiswa UII bersama dosen pembimbing (depan) menunjukkan contoh karya siswa berkebutuhan khusus.
JOGJA – Empat orang mahasiswa UII (Universitas Islam Indonesia) Yogyakarta berhasil menggerakkan siswa-siswi tuna rungu dan tuna grahita di SLB Negeri 1 Sleman, DIY berwirausaha melalui pengolahan kain perca batik. Dikenalkan pula budaya Indonesia melalui permainan monopoli dan ular tangga.
Mahasiswa dari prodi Teknik Industri, Fakultas Teknologi Industri, itu masing-masing Febri Wahyudi, Dwi Adi Purnama, Manzula Maulida Rahman, dan Alfiqra dengan dosen pembimbing Vembri Noor Helia ST MT tanpa kenal lelah selama tiga bulan melatih 15-20 anak-anak berkebutuhan khusus itu.
“Melalui keterampilan yang dimiliki diharapkan para siswa dapat berinovasi terutama seputar pemanfaatan kain perca batik. Dengan menjual produk hasil karya mereka, diharapkan anak-anak itu mampu berwirausaha setelah lulus dari pendidikan sekolah,” ujar Vembri.
Bukan hanya mengolah perca batik menjadi bros dan aksesoris, tas cantik, hingga taplak meja, para siswa juga diberi kesempatan untuk membatik sendiri. “Batik yang kami ajarkan, menggunakan kuas. Bukan canting. Itu kami sesuaikan dengan kemampuan anak-anak berkebutuhan khusus tersebut,” papar Maulida.
Para siswa juga diajak mengunjungi sentra batik Giriloyo, Bantul, DIY untuk melihat dan mempraktikkan secara langsung proses membatik tulis. “Melalui kunjungan tersebut, kami mengharapkan para siswa mempunyai pengalaman khusus terhadap dunia seni dan wirausaha,” tandas Maulida.
Sedangkan alat peraga pembelajaran berupa permainan bertujuan memperkenalkan budaya Indonesia. “Kami membuat dua permainan. ‘Utang Budi’, ular tangga budaya Indonesia, serta ‘Libudi’, monopoli budaya Indonesia,” jelas Adi.
Pengenalan budaya melalui permainan itu dilakukan melalui pertanyaan-pertanyaan yang diberikan selama permainan. Pada permainan Utang Budi, misalnya, sebelum melempar dadu untuk mengetahui berapa langkah maju, pemain harus menjawab pertanyaan terkait budaya Indonesia terlebih dahulu.
“Pertanyaan yang diberikan, misalnya rencong senjata dari daerah mana. Dan jika pemain tidak bisa menjawab, hukumannya mereka harus mundur dua kotak. Karena target kami siswa difabel, permainan dilakukan secara berkelompok,” ujar Adi lebih jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan