Majalah Tertua Itu Segera Miliki Gedung Megah

 IMG_20170213_090013
Ketua Umum PP Muhammadiyah meletakkan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Grha Suara Muhammadiyah.
JOGJA – Tidak banyak yang tahu, ternyata majalah ‘Suara Muhammadiyah’ merupakan majalah tertua di Indonesia yang hingga ini masih terbit. Atau, yang sejak edisi pertama hingga kini masih terus terbit secara berkesinambungan.
Terbukti dengan sertifikat rekor MURI yang mereka kantongi. Dan majalah yang kali pertama terbit tahun 1915 itu akan segera memiliki gedung megah dengan dimulainya pembangunan Grha Suara Muhammadiyah, yang terletak di Jalan KHA Dahlan Jogjakarta.
“Kami sengaja mengambil momentum Hari Pers Nasional untuk memulai pembangunan gedung ini,” ungkap Dirut PT Syarikat Cahaya Media, Deni Asy’ari MA, selaku penanggungjawab pembangunan sekaligus yang membawahi majalah itu, pada peletakan batu pertama menandai dimulainya pembangunan Grha Suara Muhammadiyah, Kamis (9/2) lalu.
Ia pun mengaku gembira, di tengah membanjirnya media online, Suara Muhammadiyah justru terus merangkak naik. “Kami mengharapkan hal ini sekaligus sebagai simbol kebangkitan media Islam. Kami pun mengharapkan keberadaan majalah ini tak hanya menginspirasi dan bermanfaat bagi warga Muhammadiyah, tapi juga bagi warga bangsa secara keseluruhan,” tandas Deni.
Dihadiri beberapa tokoh penting Muhammadiyah, Prof Dr H Ahmad Syafii Maarif selaku Pemimpin Umum Suara Muhammadiyah menyatakan kegembiraannya pula, majalah ini mampu mengembangkan aset secara dahsyat dalam kurun waktu tiga tahun terakhir ini.
Semula aset yang dimiliki hanya senilai Rp 3 miliar. Kemudian berkembang menjadi Rp 17 miliar, dan saat ini aset tersebut telah menjadi Rp 30 miliar. Dengan demikian, beaya pembangunan gedung sebesar Rp 11 miliar bisa didanai sendiri. “Kami tidak perlu meminjam ke pihak lain,” ujarnya bangga.
Syafii yang pernah menduduki jabatan Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah itu pun menyadari, ternyata satu amal usaha jika dikelola kemudian dibenahi secara benar mampu menunjukkan perkembangan yang baik. “Saya kira ini perlu diikuti oleh amal usaha yang lain, terutama Suara Aisyiyah,” tuturnya.
Ketua Umum PP Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir MSi, pun mengaku sangat terharu sekaligus bangga dengan pencapaian Suara Muhammadiyah. “Sebagai orang yang menjadi bagian dari majalah ini, saya sangat bangga,” katanya.
Haedar pun kemudian sedikit mengisahkan, dirinya di waktu muda pernah menjadi wartawan Suara Muhammadiyah yang harus meliput ke sana-sini, hingga ke luar kota, dengan fasilitas yang masih sangat terbatas. “Jadi di majalah ini saya pernah ‘merangkak’ dari level terbawah,” ungkapnya kemudian. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan