Masyarakat Jogja Saling Menghormati Dalam Kehidupan Beragama

JOGJA (jurnaljogja.com) – Dosen Jurusan Penyiaran Komunikasi Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri (UIN) Sumatera Utara, Hasan Sazali mengakui, meski tingkat pluralitasnya cukup tinggi dari aspek agama maupun etnis, namun masyarakat Kota Jogja bisa saling menghormati dalam kehidupan beragama.
“Secara kultur, nilai kearifan lokal dan budaya Jawa yang berkembang di masyarakat menjadi basis penguatan toleransi agama di Kota Jogja,” kata Hasan saat mempertahankan disertasinya untuk meraih gelar doktor di Sekolah Pascasarjana UGM Jogjakarta, Rabu (22/6).
Dalam disertasinya berjudul ‘Penguatan Toleransi Agama dalam Komunikasi Pembangunan Agama (Studi Kasus Pemerintah Kota Bogor dan Yogyakarta)’  disampaikan, sistem sosial yang berbasis kearifan lokal mempengaruhi kehidupan beragama masyarakat  Jogja,  yang mengedepankan toleransi.
Namun demikian dalam penelitian promovendus menyebutkan, peran Pemerintah Kota Jogja  beserta pemangku kepentingan relatif masih lemah dalam penguatan toleransi agama. Pemkot Jogja mendisposisikan kegiatan yang terkait toleransi umat beragama ke Forum Kerukunan Umat Beriman (FKUB). Sedangkan aspek pembangunan agama didisposisikan pada Kantor Pemberdayaan Masyarakat dan Perempuan. Sementara, Kementerian Agama Kota Jogja secara institusional tidak bertanggung jawab secara struktural dengan pemkot setempat. Ini menunjukkan masih ada ego sektoral dalam sistem pemerintahan Kota  Jogja, sehingga proses pengkomunikasian konten regulasi toleransi agama masih lemah.
Untuk itu sudah seharusnya pemerintah lebih mengoptimalkan potensi budaya dan kearifan lokal sebagai modal besar dalam proses penguatan toleransi agama secara kultural. Selain itu dinilai penting  meningkatkan ide-ide kreatif melalui revitalisasi kearifan lokal dan nilai budaya dalam proses perubahan sosial masyarakatnya. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan