Matematika Bukan Hanya Ilmu Berhitung

 IMG_20161107_194808
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
JOGJA – Masyarakat, guru, mahasiswa, sebagian masih memandang matematika sebagai Ilmu berhitung. Sebagian besar murid pun memandang matematika hanya sebagai subyek untuk mempersiapkan diri masuk jenjang universitas.
“Pandangan semacam itu menjadi kendala yang dihadapi dalam belajar matematika,” ujar Prof Drs Subanar PhD, Direktur Seameo Qitep in Mathematics, pada seminar nasional ‘Matematika dan Pendidikan Matematika’, yang diselenggarakan Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, di kampus setempat, Sabtu (5/11).
Mengenai apakah matematika itu, orang sudah berusaha menjawabnya ribuan tahun yang lampau. Secara etimologis, istilah ‘Matematika’ berarti máthẽma yang berarti belajar atau ilmu. Pada perkembangannya periode sekitar 500 tahun SM, matematika dipahami sebagai ilmu mengenai bilangan-bilangan dan menghitung dengan bilangan-bilangan.
Perkembangan lain, para ahli Matematika di China, India, Arab mengembangkan Aritmetika dan Geomatri secara independen dan dipengaruhi budaya setempat, Konfusianisme, Hindunisme, Islam. Perkembangan besar matematika ketika Isaac Newton (1643-1727) dan GW Leibnitz (1646-1716) secara independen mulai mengembangkan kalkulus.
Pada dasarnya kalkulus adalah Matematika mengenai pergerakan dan perubahan. “Bila sebelumnya lebih banyak berkaitan dengan masalah-masalah yang bersifat statis, dengan kalkulus para matematikawan dapat mempelajari hal-hal yang bersifat dinamis, seperti pergerakan, planet, gaya tarik bumi, penerbangan di angkasa, aliran zat cair, penyebaran penyakit, fluktuasi harga, dan lain lain,” tutur Subanar.
Matematika kemudian dikenal sebagai ilmu mengenai bilangan, bangun, pergerakan, perubahan, dan ruang. Para matematikawan tak hanya tertarik pada penggunaannya, tapi juga pada matematikanya sendiri, berkaitan dengan Matematika sebagai suatu sistem formal.
“Cabang matematika tersebut sekarang dikenal sebagai Meta Matematika. Maka kemudian, Matematika berkembang menjadi ilmu mengenai bilangan, bangun, pergerakan, perubahan, ruang, dan Meta Matematika,” lanjut Subanar.
Pembicara lain, Dr Ali Mahmudi, pakar pendidikan yang juga Ketua Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY mengemukakan, pembelajaran matematika tak hanya dimaksudkan untuk penguasaan materi matematika sebagai ilmu semata, melainkan untuk mencapai tujuan yang lebih ideal, yakni penguasaan kecakapan matematika yang diperlukan untuk memahami dunia di sekitarnya serta untuk keberhasilan dalam kehidupan. “Pembelajaran matematika difungsikan sebagai sarana untuk menumbuhkan kecakapan hidup,” tegasnya.
Ia juga menjelaskan, untuk meniti sukses hidup di masa depan, individu perlu memiliki sejumlah kompetensi strategis, di antaranya kemampuan berpikir dan karakter yang baik. Pengembangan kompetensi tersebut memelurkan daya dukung yang kuat, salah satunya pembelajaran, termasuk pembelajaran matematika yang berdaya.
“Pembelajaran harus dikelola dengan baik sehingga lebih berdaya untuk mengembangkan kompetensi tersebut, misalnya melalui aktivitas ilmiah terutama melakukan kebiasaan mempertanyakan dan tugas atau soal yang multijawab. Selain itu, pembelajaran yang berdaya juga berpotensi untuk mengembangkan karakter siswa, misalnya melalui soal multijawab, siswa belajar mengenai pentingnya sikap terbuka dan menghargai perbedaan pendapat,” tambah Ali. (rul)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan