Matematika Perlu Dibuat Lebih Mudah

Matematika: Wakil Rektor IV UNY, Dr Senam, membuka secara resmi the 2nd ISIMMED dan the 23rd ATCM 2018, di kampus setempat, Rabu (21/11).

Matematika: Wakil Rektor IV UNY, Dr Senam, membuka secara resmi the 2nd ISIMMED dan the 23rd ATCM 2018, di kampus setempat, Rabu (21/11).

JOGJA – Banyak siswa mengalami phobia terhadap pelajaran matematika. Hal tersebut karena biasanya guru matematika cenderung ‘killer’. Bisa didiskusikan tentang bagaimana mengajar matematika kepada siswa sehingga matematika menjadi lebih mudah.

Wakil Rektor IV UNY, Dr Rer nat Senam, mengemukakan hal itu saat membuka the 2nd ISIMMED (International Seminar on Innovation in Mathematics and Mathematics Education dan the 23rd ATCM (Asian Technology Conference in Mathematics) 2018, yang digelar Jurusan Pendidikan Matematika FMIPA UNY, di kampus setempat, Rabu (21/11).

Forum yang berakhir Sabtu (24/11) dan mengambil tema Innovative Technology in Mathematics: New Ways for Learning, Teaching, Researching Mathematics itu menghadirkan 16 orang pembicara dari berbagai negara. Antara lain, Wei-Chi Yang dari USA, Ron Lancaster (Kanada), Weng Kin Ho (Singapura), Salang Musikasuwan (Thailand), Sahid (FMIPA UNY).

Seminar ini merupakan yang terakhir dari 28 seminar internasional di UNY pada 2018. “Ini salah satu upaya UNY untuk menjadi World Class University. Kegiatan lain yang telah dilaksanakan, di antaranya join research, visiting professor, join publication development, join degree program PhD or Master dengan universitas di Dresden, Jerman,” tutur Senam.

Pada konferensi yang diikuti peserta asal 20 negara anggota ATCM dengan sekitar 73 orang di antaranya peserta dari luar negeri, itu Yang memaparkan artikelnya yang berjudul Strong algebraic manipulation skills are not adequate for cultivating creativity and innovation.

Yang mengambil contoh beberapa masalah pada ujian praktik masuk perguruan tinggi di China untuk menyoroti beberapa keterampilan manipulasi aljabar yang dibutuhkan oleh siswa sekolah menengah. Selanjutnya Yang mengeksplorasi berbagai skenario dengan mengasumsikan jika teknologi tersedia bagi peserta didik, maka akan dapat dilihat banyak hasil mengejutkan yang tidak terduga.

Melalui beberapa contoh dalam artikelnya, Yang berharap dapat memberi masukan kepada para pengambil keputusan dalam bidang pendidikan untuk memberikan kesempatan kepada siswa mengeksplorasi matematika menggunakan teknologi yang tersedia.

“Teknologi yang berkembang tidak hanya dapat membuat matematika menyenangkan dan dapat diakses lebih mudah, tetapi juga memungkinkan siswa mengeksplorasi matematika secara lebih menantang dan teoritis,” ujar Yang.

Ia menandaskan, ketika matematika dibuat lebih mudah diakses oleh siswa, mungkin lebih banyak siswa yang akan terinspirasi untuk menyelidiki masalah matematis, mulai dari yang sederhana hingga yang lebih menantang.

“Bagaimanapun, kreativitas dan inovasi tidak datang hanya dengan memberikan satu jawaban yang benar saja. Siswa sangat perlu mendapat kesempatan untuk mengeksplorasi banyak jawaban yang benar dengan bantuan teknologi,” tutur Yang kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan