Media Cetak di Surakarta Representasikan Islam

JOGJA (jurnaljogja.com) –  Media-media cetak non-agama di Surakarta mempresentasikan Islam secara positif dan negatif. Hal itu terlihat dari pemberitaan kasus penyerangan Charlie Hebdo yang menjadi titik tolak penelitian ini.
Demikian disampaikan Dosen Sosiologi Komunikasi, Sosiologi Agama, Metodologi Penelitian dan Kajian Media di Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI) IAIN Surakarta, Muhammad Fahmi dalam promosi doktor Program Studi kajian Budaya dan Media di Sekolah Pasca Sarjana UGM Jogjakarta, Senin (20/6).
Menurut dia, representasi Islam positif terjadi karena dipengaruhi konteks sosial Surakarta sebagai wilayah dimana gerakan Islam revivalis dan Islam puritan cukup agresif dan artikulatif di Surakarta, terutama pada era pasca reformasi. Jika sebelumnya pada era pergerakan, gerakan Islam begitu heroik, kentalnya semangat kebangsaaan. Maka, sekarang terlihat berubah menjadi makin mengerasnya semangat primordialisme. Yang ditandai dengan munculnya gerakan-gerakan Islam revivalis dan puritan yang begitu ekspresif dalam mengartikulasikan Islam tidak hanya sebagai cara hidup (the way of life). Tapi juga sebagai cara pandang (the word view) satu-satunya dalam kehidupan sosial-budaya-politik di Surakarta.
Sementara representasi Islam negatif, lanjut Fahmi, selain untuk kepentingan cover both side, keberimbangan media, tapi juga akibat dari kondisi media yang sangat bergantung pada pasokan informasi yang dikuasai media global (Barat). Artinya, teks-teks media yang merupakan alat untuk memproduksi makna, identitas dan ideologi  atau representasi, tidak bisa dilepaskan dari konteks sosial Surakarta dan sekaligus konteks global media. “Ada keterkaitan antara teks, discourse dan konteks sosial. Ada relasi dan interplay antara representasi media dengan praktik, struktur dan konteks  sosial Surakarta dan kuasa serta kepentingan media-media cetak di Surakarta,” jelasnya.  (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan