Membudayakan Penelitian di Kalangan Guru

 

IMG_20171108_121310

Oleh: Dr. Hendro Widodo, M.Pd

Kebijakan pemerintah tentang sertifikasi guru, menempatkan penelitian sebagai salah satu karya pengembangan profesi. Guru yang profesional tugasnya tidak hanya merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi proses pembelajarannya tetapi juga melakukan penelitian. Penelitian adalah satu hal yang seyogianya tidak bisa dipisahkan dalam kegiatan seorang guru dalam rangka menjalankan profesi kependidikannya di sekolah. Guru tidak hanya sebatas menjadi ”tukang ajar” yang ruang geraknya dibatasi empat dinding ruang kelas, tetapi diharapkan juga menjadi seorang peneliti.

Melalui Penelitian Tindakan Kelas (PTK) yang dilakukan, guru diharapkan menjadi ”pionir” sekaligus ”inovator” pembelajaran yang mampu menciptakan atmosfer pembelajaran secara menarik dan memikat sehingga siswa merasa nyaman dan menyenangkan ketika mengikuti proses pembelajaran. Dengan kata lain, PTK dilakukan untuk memperbaiki kualitas pembelajarannya sekaligus menuangkan ide-ide kreatif tentang inovasi pembelajaran yang berbasis kelas. Oleh karena itu, kegiatan meneliti seharusnya membudaya dalam jiwa seorang guru.

Terlibatnya seorang guru dalam dunia penelitian, misalnya dengan melakukan Penelitian Tindakan Kelas (PTK), diyakini bakal menjadi salah satu penentu meningkatnya wawasan dan kemampuan mendidik. Proses penelitian, mau tidak mau, akan mendorong seorang guru untuk terus membaca. Dunia penelitian memungkinkan para guru untuk terus melakukan refleksi pada setiap kegiatan pengajaran yang mereka lakukan. Mencarikan solusi dari permasalahan yang guru hadapi, yang pada ujungnya tentu akan berdampak pada semakin berkualitasnya proses pembelajaran di sekolah.

Dilihat dari perspektif guru sebagai subjek dan sebagai praktisi pendidikan, sesungguhnya para guru memiliki potensi dan kesempatan meneliti yang sangat besar. Guru sebenarnya memiliki segudang bahan yang bisa dijadikan objek penelitian. Guru bisa meneliti tentang pengalaman pribadi berkaitan dengan pembelajaran yang dilaksanakan di dalam kelas. Guru juga dapat meneliti berbagai tema seputar persoalan pendidikan, dengan catatan guru tersebut mau dan mau meneliti.

Namun kenyataannya, harus diakui bahwa mayoritas guru sepertinya masih sangat jauh dari dunia penelitian ini. Selama ini, dunia penelitian seakan berada pada satu lembah, sementara para guru berada pada lembah yang lain. Seakan ada jurang yang amat dalam memisahkan keduanya.

Banyak bukti yang menerangkan tentang rendahnya budaya meneliti di kalangan guru, diantaranta: Pertama, banyak para guru yang kenaikan pangkatnya tertahan di golongan IVA karena untuk naik ke golongan IVB para guru harus memenuhi unsur pengembangan profesi yang didalamnya guru diminta menyusun karya tulis ilmiah (KTI) sehingga guru aktif yang berada pada golongan IVB ke atas sangat sedikit jumlahnya bila dibandingkan yang berada pada golongan IVA. Kedua, minimnya karya yang dibuat guru dalam bentuk buku, modul, diktat pembelajaran maupun artikel ilmiah serta terbatasnya para guru yang terlibat dalam aktivitas ilmiah, seperti halnya penelitian.

Banyak faktor yang menyebabkan budaya meneliti di kalangan guru masih rendah. Pertama, tidak kondusifnya iklim sekolah untuk menjadikan guru sebagai peneliti. Terbatasnya sumber, bahan dan atau referensi, tidak adanya jurnal penelitian di sekolah adalah di antara contoh nyata tidak kondusifnya dunia penelitian di sekolah.

Kedua, tidak teralokasinya dana khusus untuk penelitian ataupun tidak adanya insentif atau bantuan dana penulisan penelitian bagi guru. Ketiga, guru merasa kurang mampu, malas dan tidak ada waktu atau karena banyaknya tugas guru di dalam maupun di luar sekolah.

Di sekolah, guru harus melaksanakan tugas pokoknya yang berupa kegiatan pembelajaran. Di luar sekolah, guru harus mempersiapkan tugasnya yang berupa; menyusun program pengajaran, menganalisis hasil evaluasi belajar/praktik, menyusun program perbaikan dan pengayaan dan lain-lain. Belum lagi ditambah tugas kemasyarakat guru. Hal ini banyak dijadikan alasan guru enggan melakukan penelitian, sehingga menyebabkan budaya meneliti di kalangan guru rendah.

Ada beberapa upaya yang dapat dilakukan agar guru dapat dengan mudah melakukan penelitian diantaranya adalah pertama, menciptakan suasana yang dapat memicu ide guru. Pemicu ide ada dimana-mana, yang dibutuhkan adalah suasana hati yang kondusif dan kebiasaan mengamati situasi sekitar. Sebagai seorang guru, PTK dapat dikakukan dengan meneliti praktik pembelajaran di dalam kelas, meneliti aktivitas sendiri melalui langkah-langkah yang direncanakan sendiri, dilaksanakan sendiri dan dievaluasi sendiri, maka sebenarnya ide-ide itu sangat dekat dengan diri guru itu sendiri.

Misalnya, rendahnya motivasi belajar siswa, prestasi belajar, aktivitas belajar, minat belajar dan segala hal yang berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi belajar siswa, baik faktor internal maupun faktor eksternal. Selanjutnya guru dapat meningkatkan faktor yang menghambat proses belajar siswa dengan mencoba menggunakan suatu metode, model dan pendekatan pembelajaran atau memberikan suatu treatment yang berbeda dengan yang biasa dilakukan.

Kedua, ide juga dapat diperoleh dengan banyak membaca, yakni membaca surat kabar, artikel, jurnal, buku, bahan bacaan dari internet dan khususnya penelitian tindakan kelas yang pernah dilakukan oleh guru peneliti sebelumnya. Dengan banyak membaca, guru akan dapat menemukan hal-hal yang baru yang mungkin belum pernah didapatkan. Hal-hal baru itulah yang dapat memunculkan ide untuk menulis dan bukan hal yang mustahil dapat memunculkan judul untuk melakukan penelitian dari bahan bacaan yang baru saja didapatkan.

Ketiga, sekolah perlu menciptakan budaya meneliti bagi guru, misalnya dengan memfasilitasi workshop penelitian bagi guru, melakukan pendampingan dalam penelitian, dan memberikan penghargaan bagi guru yang melakukan penelitian.

Keempat, mempunyai ketekunan, kemauan dan keyakinan untuk melakukan PTK, baik melaksanakan proses penelitian dalam pembelajarannya maupun mengevaluasi dan membuat laporannya. Karena meneliti lebih banyak ditentukan oleh kemauan dan ketekunan bukan dari kemampuan. Dampak dari ketekunan, kemauan dan keyakinan ini adalah memunculkan kegairahan dalam melakukan PTK serta menyusun laporannya.

Kelima, bagi guru dan siapa saja yang baru melakukan langkah awal untuk melakukan PTK dapat mencoba tips 3M, yakni Mengamati, Menirukan dan Menambahi. Mengamati, seorang peneliti dapat memulai dengan mengamati penelitian tindakan kelas yang telah dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya.

Dengan mengamati proses pembelajaran guru yang sedang melakukan PTK atau mengamati laporan PTK yang telah ada maka akan memunculkan pemahaman seseorang tentang prosedur melakukan PTK dan menyusun laporannya. Menirukan, dalam tahap belajar melakukan PTK, guru dapat menirukan penelitian yang telah dilakukan terdahulu dan diterapkan di kelas yang diajarnya, dengan catatan tidak menjadi plagiat. Dengan judul yang mungkin sama tetapi dengan masalah, subjek dan lokasi penelitian yang berbeda tentunya akan memunculkan hasil yang berbeda.

Menambahi, supaya PTK yang dilakukan tidak sama dengan yang pernah dilakukan peneliti sebelumnya maka guru dapat menambahkan variabel penelitian, metode, model dan pendekatan pembelajaran atau treatment, jumlah siklus dan hal lain yang dianggap penting kedalam penelitian yang dilakukannya. Dengan demikian, guru akan mudah melakukan penelitian dan penelitian akan membudaya dikalangan guru. Lebih baik salah untuk berbuat,dari pada bilang tidak pernah salah karena memang tidak pernah berbuat.

Penulis adalah Dosen Prodi PGSD FKIP UAD Yogyakarta

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan