Menag: Toleransi Jangan Hanya Dipahami

IMG_20160811_174533

Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja

Menag H Lukman Hakim Saifuddin (tengah) di UKDW.

JOGJA – Memelihara toleransi sangat diperlukan di dalam negara beragam, di dalam masyarakat majemuk, seperti yang kita miliki sekarang ini. Persoalannya, iklimnya memang sangat fluktuatif. Sangat dinamis. Terlebih di era global saat ini. Ketika tak ada lagi batas negara. Toleransi memang tergantung banyak faktor.

“Karenanya, toleransi jangan hanya dipahami. Tapi harus dipraktikkan dan dijadikan sebagai kebutuhan,” ujar Menag (Menteri Agama) H Lukman Hakim Saifuddin, di hadapan peserta seminar ‘Memelihara Toleransi dalam Masyarakat Majemuk’, yang digelar Pusat Studi Agama-agama Fakultas Teologi UKDW (Universitas Kristen Duta Wacana) Jogjakarta, di kampus setempat, Rabu (10/8).

Tuhan, lanjut Lukman Hakim, memang menciptakan manusia secara plural. “Manusia memang diciptakan beragam sehingga perlu memahami, mempraktikkan, sekaligus menjadikan toleransi sebagai kebutuhan. Tak hanya antar-agama, di dalam satu agama pun muncul banyak perbedaan,” tandasnya.

Untuk itu perlu dipraktikkan toleransi tanpa mengusik akidah satu keyakinan, kepercayaan, agama tertentu. “Toleransi perlu dipraktikkan secara arif, secara bijak, karena kita memang hidup di dalam masyarakat yang beragam,” ujar Lukman Hakim kemudian.

Menag mengakui, belakangan toleransi semakin kompleks karena globalisasi sehingga konflik pun bisa muncul karena hal sepele. “Toleransi menjadi semakin serius karena lingkungan tempat tinggal kita telah, bahkan selalu berubah secara dinamis,” tuturnya lebih jauh.

Rektor UKDW, Ir Henry Feriadi PhD menyatakan, universitas yang ia pimpin memang terus bersemangat menumbuhkan toleransi. “Sejak dirintis sebagai Sekolah Injil, kemudian berubah menjadi Sekolah Tinggi Teologia pada 1962, dan menjadi UKDW pada 1985, kami selalu mengedepankan pluralisme. Teologia yang kontekstual. Bukan berbasis pada Eropa, Timur Tengah, dan lain-lain,” katanya.

Pusat Studi Agama-agama Fakultas Teologi UKDW Yogyakarta sebagai penyelenggara ingin mengajak para peserta menyadari ada kekuatan-kekuatan politis-sosiologis yang tidak pernah bosan berusaha menghancurkan spirit toleransi masyarakat dengan isu-isu rasial maupun politis. “Pengenalan terhadap kekuatan-kekuatan tersebut menjadi salah satu modal bagi kita untuk memutus mata rantai intoleransi,” ujar koordinator seminar, Pdt Dr Wahyu Nugroho MA.

Bangsa kita, lanjut Wahyu, bangsa yang sangat religius tetapi sekaligus bangsa yang menderita karena kekerasan-kekerasan bernuansa agama. “Karena itu, seminar ini bertujuan semakin membangkit komitmen di antara kalangan beragama di Indonesia untuk setia pada panggilan kenabiannya menjadi penjaga sekaligus pemelihara toleransi dengan mengedepankan kedamaian yang menjadi sifat hakikinya,” tegasnya.

Selain Menag Lukman Hakim sebagai pembicara utama, subtopik ‘Tantangan bagi Upaya Memelihara Toleransi Di Indonesia’ menghadirkan narasumber Dr Muhammad AS Hikam yang membahas dari perspektif politik dan dosen UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta) Dr Mega Hidayanti MA yang mengkaji dari sudut pandang sosiologi.

Sedangkan subtopik ‘Peran Agama dalam Upaya Memelihara Toleransi Di Indonesia’ menampilkan narasumber Ketua PP Muhammadiyah Bidang Hub Antaragama dan Peradaban Prof H Syafiq A Mughni dari perspektif Islam dan mantan Ketua PGI Pdt Dr AA Yewangoe yang menguraikan bagaimana kekristenan dapat memberikan kontribusi bagi pemeliharaan toleransi. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan