Mendikbud Akui Teledor Di Pendidikan

Mendikbud Muhadjir Effendy

Mendikbud Muhadjir Effendy

JOGJA – Berdasarkan pencapaian Matematika, IPA, dan Bahasa, peringkat Indonesia selalu di bawah dibandingkan negara-negara lain di dunia. Bahkan dibandingkan Vietnam. Sekalipun parameter yang dipergunakan Vietnam sedikit berbeda.

“Pemeringkatan itu telah dimulai sejak 2002 dan kita tak pernah beranjak naik. Ternyata selama ini kita memang tidak berbuat apa-apa. Bahkan abai terhadap hal-hal mendasar. Kta teledor di bidang pendidikan,” ujar Mendikbud (Menteri Pendidikan dan Kebudayaan) Muhadjir Effendy, di kampus UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Sabtu (3/11).

Bukan ingin berkilah, menurut Muhadjir, kita selama ini keliru. “Ketika negara lain menggunakan parameter penalaran tingkat tinggi, kita justru hanya menuntut untuk tingkat lower,” katanya seraya mengemukakan, soal pilihan ganda merupakan salah satu contoh yang tidak membentuk penalaran tingkat tinggi bagi peserta didik.

Di hadapan peserta Sendikmad (Seminar Pendidikan Matematika Ahmad Dahlan) itu, Mendikbud mengakui, memang masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan menyangkut bidang pendidikan. “Penguasaan guru-guru harus segera dipercepat. Guru merupakan kunci. The real curriculum itu guru,” tandas Muhadjir.

Karena itu, Muhadjir menegaskan, selama ia memimpin kemendikbud akan fokus pada persoalan guru. “Jangan harap pendidikan akan maju jika persoalan guru tak ditangani secara serius,” tuturnya lebih jauh.

Di hadapan Mendikbud, Rektor UAD H Kasiyarno lebih banyak menyinggung perkembangan pembangunan Museum Muhammadiyah yang memang terletak di salah satu kampus perguruan tinggi Muhammadiyah itu. “Mudah-mudahan, April tahun depan presiden bisa meresmikan museum tersebut,” katanya.

Selain museum, UAD juga sedang membangun fasilitas observatorium dan planetarium. “Jika semua fasilitas itu nanti sudah jadi, termasuk museum, kami akan lebih membuka diri dan menjadikan kampus ini menjadi tempat wisata. Akan kami kembangkan wisata kampus,” papar Kasiyarno kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan