Menentang Teroris Ibarat Perang Lawan Bayangan

Yudi Prayudi (kiri) dan Teduh Dirgahayu

Yudi Prayudi (kiri) dan Teduh Dirgahayu

JOGJA – Upaya menentang terorisme yang bergerak dalam ruang siber dapat diibaratkan seperti berperang melawan bayangan karena pergerakan, strategi, sasaran dari pihak lawan tidak jelas, serba menduga dan menebak. Karena luasnya ruang siber, upaya tersebut tidak bisa hanya dengan mengandalkan kemampuan teknologi. Harus pula melibatkan secara aktif para pegiat di ruang siber itu sendiri.

“Kerusuhan di Mako Brimob serta ledakan bom di Surabaya, dari pemberitaan terungkap ternyata kedua peristiwa itu didukung aktivitas nyata dari para pelaku dan jaringannya dalam media sosial,” ungkap Ketua Pusfid (Pusat Studi Forensika Digital) UII, Yudi Prayudi MKom, yang juga Dosen Magister Teknik Informatika Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII, di kampus setempat, Selasa (15/5).

Terdapat beberapa hal yang menarik dari pemanfaatan media sosial yang dapat disalahgunakan untuk kepentingan aktivitas ilegal termasuk cybercrime dan terorisme. “Karena sifatnya yang anonim, social media tidak mampu mendeteksi dan memfilter identitas penggunanya. Setiap orang dapat dengan mudah membuat akun dengan identitas diri sebagai siapa pun,” tutur Yudi.

Ada cakupan tanpa batas. Aktivitas dalam media sosial dapat dilakukan kapan pun dan di mana pun selama terdapat koneksi internet. Mudah dan murah. Sebagian besar platform media sosial sifatnya gratis dan sangat mudah untuk dioperasionalkan oleh siapa pun. “Bermodalkan smartphone sederhana, semua aktivitas media sosial dapat dijalankan dengan mudah,” kata Yudi.

Beberapa platform media sosial, lanjut Yudi, menyediakan layanan tambahan (API) yang memungkinkan untuk meningkatkan kinerjanya sesuai dengan keperluan pengguna. Ini justru sering dimanfaatkan untuk kepentingan tools otomatis yang berfungsi sebagai robot dari media sosial tersebut. “Melalui tools tersebut, menjadi sulit dibedakan apakah aktivitas akun tertentu di media sosial benar-benar dijalankan oleh individu atau oleh mesin komputer,” tandasnya.

Berdasarkan analisis singkat, terdapat beberapa fungsi media sosial yang umumnya dilakukan oleh para pelaku teror. Meliputi rekruitmen dan mobilisasi, membangun jejaring komunikasi terbatas sesama pelaku, sharing informasi untuk penyebaran paham dan ideologi, perencanaan dan koordinasi untuk penyampaian taktik dan strategi, perang psikologis dan propaganda untuk menyebarkan ancaman dan propaganda yang berdampak pada munculnya ketakutan pada masyarakat, serta untuk penggalangan dana.

Data dari We are Social menunjukkan, pengguna terbesar media sosial di Indonesia, adalah Youtube, Facebook, Whatssapp, Instagram, Line, BBM, Twitter. Meski belum ada penelitian secara khusus tentang korelasi penyebaran paham terrorisme dalam ruang siber dan media sosial di Indonesia, namun kesesuaian data tersebut menunjukkan, Youtube, Facebook, Instagram dan Twitter berpotensi besar sebagai media sosial yang banyak digunakan untuk penyebaran konten terorisme di Indonesia.

Ketua Program Pascasarjana Fakultas Teknologi Industri UII, Dr R Teduh Dirgahayu mengemukakan, selain potensi positif dalam memanfaatkan ruang siber, ternyata terdapat pula potensi negatifnya. Pada sisi lain, pelibatan komputer dan teknologi informasi sebagai targeted crime ataupun sebagai facilitated dan supported crime telah membuat kejahatan bertransformasi ke dalam ruang siber yang kemudian dikenal dengan istilah cybercrime.

Bentuk kejahatan itu memiliki variasi aktivitas yang sangat beragam dan semakin kompleks dengan jumlah korban dan tingkat kerugian yang semain meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai upaya meningkatkan kesadaran dan perilaku yang sehat di kalangan masyarakat dalam menggunakan digital device dan beraktivitas dalam ruang siber, perlu diupayakan sebuah kampanye kesadaran sosial masyarakat.

Bercermin dari keberhasilan kampanye Turn Back Crime, maka untuk kepentingan kampanye penggunaan digital device dan perilaku ruang siber agar terhindar dari perilaku negatif yang mengarah kepada cybercrime serta antisipasi dari meningkatnya korban cybercrime, diinisiasi kegiatan kampanye kesadaran perilaku positif dalam ruang siber dengan tagline Crime Leaves Trace serta slogan Think Before Click.

“Kampanye kesadaran perilaku positif dalam ruang siber tersebut merupakan komitmen sivitas akademika UII melalui Pusfid, serta mahasiswa dan alumni program pascasarjana konsentrasi Forensika Digital Magister Informatika FTI UII untuk meningkatkan awareness dan edukasi masyarakat tentang cybercrime dan ruang siber,” tandas Teduh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan