Menggembirakan Peksiminas Cerminkan Keberagaman

Monolog: Duta seni asal DKI Jakarta saat menampilkan aksi monolognya pada Peksiminas XIV 2018, di Auditorium Teater, ISI Jogjakarta, Jumat (19/10).

Monolog: Duta seni asal DKI Jakarta saat menampilkan aksi monolognya pada Peksiminas XIV 2018, di Auditorium Teater, ISI Jogjakarta, Jumat (19/10).

JOGJA – Hingga hari keempat, Jumat (19/10), pelaksanaan Peksiminas (Pekan Seni Mahasiswa Nasional) XIV 2018 dengan tuan rumah ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta berjalan lancar sesuai jadual dan rencana awal. Lebih memuaskan, duta seni asal 33 provinsi yang mengikuti 15 tangkai lomba dan satu eksibisi, itu rata-rata memiliki kualitas yang bagus.

“Sangat menggembirakan pula, mencermati karya para mahasiswa terutama pada penulisan puisi, cerpen, maupun lakon sangat mencerminkan keberagaman sesuai latar sosial budaya masing-masing,” tutur Ketua Panitia Peksiminas XIV 2018, Drs Anusapati MFA, di sela pelaksanaan Seminar Budaya, di kampus ISI Jogjakarta, Jumat (19/10).

Penilaian Anusapati yang juga Pembantu Rektor III bidang Kemahasiswaan itu tidak mengada-ada. Salah satu penampilan duta seni asal DKI Jakarta pada tangkai lomba monolog, misalnya, mampu memukau bahkan mengundang tepuk tangan riuh segenap penonton. Naskah monolog Prodo Imitatio karya Arthur S Nalan mampu dibawakan mahasiswa Unika Atma Jaya Jakarta itu dengan penuh penghayatan.

Anusapati juga sangat mengapresiasi kerjasama delapan perguruan tinggi di Jogjakarta lainnya, sebagai tempat lomba, sehingga semuanya berjalan sesuai rencana. “Semoga hingga rapat dewan juri nanti malam (Jumat, 19/10 – red.) dan penutupan besok (Sabtu, 20/10 – red.),” ujarnya kemudian.

Terkait dengan keberagaman karya para duta seni, menurut Anusapati, pun merupakan hal sangat menarik karena keberagaman itulah yang kemudian mengikat kita sebagai satu bangsa. “Hal itu pun sesuai dengan tujuan Peksiminas kali ini yang antara lain untuk memperkaya khasanah seni bangsa Indonesia,” tandasnya.

Guru Besar Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta, Prof Dr Suminto A Sayuti menegaskan, hingga kini kita memiiki dua macam sistem budaya, lokal dan translokal atau nasional. “Keduanya harus tetap dipelihara, dikembangkan, dan diberdayakan,” katanya selaku pembicara pada Seminar Budaya Peksiminas XIV 2018.

Persilangan dialektik antara yang ‘lain’ dan dorongan untuk mencipta dan mencipta ulang identitas lokal yang independen dalam suatu proses transformasi berkesinambungan – apapun sebutannya: reaktualisasi, revitalisasi, reinterpretasi – menjadi imperatif untuk dilaksanakan.

Semuanya bertujuan menyiapkan sebuah habitat agar figur-figur yang terlibat di dalamnya mampu menghayati nilai lokal, sekaligus mampu membuka ruang tegur-sapa dengan yang lain dalam dirinya, untuk menjadi lokal sekaligus translokal dan global. “Pengutamaan kecendekiaan dan pengayaan kultural merupakan suatu hal yang tak boleh diabaikan,” tegasnya di hadapan peserta seminar itu. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan