Meningkat, Kasus Bunuh Diri di Gunungkidul

IMG_20160721_020534

 

Bambang Sugiharto/Jurnal Jogja

GUNUNGKIDUL (jurnaljogja.com) – Kasus bunuh diri  di Kabupaten Gunungkidul-DIJ cenderung meningkat dalam beberapa dekade terakhir ini. Bunuh diri di wilayah tersebut  secara beruntun mulai awal tahun 2003-2012 terjadi sebanyak 330 kasus atau  rata-rata 33 kasus bunuh diri per-tahun.
Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Udayana, Drs I Wayan Suwena, Mhum menyebutkan, berbagai upaya telah dilakukan Pemkab Gunungkidul untuk mengantisipasi kejadian itu. Antara lain menyusun dan mensosialisasi sejumlah program penanggulangan tindakan bunuh diri ke seluruh lapisan masyarakat. Baik melalui sosialisasi langsung, pembagian modul serta pedoman deteksi dini dan pendampingan kelompok yang berisiko tinggi bunuh diri.
“Tindakan bunuh diri di Gunungkidul merupakan tragedi kemanusiaan yang penyebabnya masih menjadi sebuah misteri. Seringkali tindakan bunuh diri dikaitkan dengan hal bersifat mistis, yaitu mitos pulung gantung,” tutur Suwena saat mempertahankan disertasinya untuk meraih gelar doktor  di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM  Jogjakarta, Selasa (19/7).
Menurut dia,  sebagian masyarakat setempat meyakini bahwa bunuh diri yang semakin marak terjadi di daerahnya itu terjadi sebagai akibat pelaku bunuh diri terkena atau kejatuhan pulung gantung. Mitos pulung gantung ini melegitimasi tindakan bunuh diri msayarakat Gunungkidul. Sehingga bunuh diri dapat ditempatkan sebagai fakta simbolik.
Dari penelitian yang dilakukan promovendus terhadap fenomena pulung gantung  diketahui bahwa bunuh diri di Gunungkidul merupakan suatu tindakan simbolik dari proses komunikasi. Pelaku bunuh diri sebenarnya ingin menjalin komunikasi dengan orang lain untuk memecahkan permasalahan hidup yang tengah dihadapi. Namun demikian, pelaku tidak mampu mengakses media untuk menyampaikan maksudnya tersebut.
“Orang-orang yang mengalami kegagalan berkomunikasi tersebut melakukan kegagalan, kesalahan, kekeliruan, maupun kesesatan pula sat melakukan signifikasni pada pulung gantung,” terangnya.
Pulung gantung yang semestinya dimaknai sebagai gejala alam biasa, tetapi dimaknai sebagai pertanda atau isyarat kejadian bunuh dengan cara menggantung diri.  Selanjutnya, penceritaan pulung gantung dan pelaksanaan serangkaian ritual pasca kejadian bunuh diri menjustifikasi bahwa tindakan bunuh itu sebagai suatu proses kematian yang alami dan dianggap wajar.
Karena itu, guna mengantisipasi merebaknya kejadian bunuh diri perlu diupatakan menciptakan kerukunan dalam berkomunikasi, baik dalam kehidupan berkeluarga maupun bermasyarakat. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara memperkaya atau memproduksi sebanyak mungkin media yang dapat digunakan untuk mengadakan komunikasi.
Penggunaan media komunikasi secara intensif ini diharapkan dapat menyembuhkan kegagalan, kesalahan maupun kesesatan dalam memaknai pulung gantung yang sesungguhnya sebagai tanda alam. Diharapkan  melalui langkah tersebut masyarakat tidak terlalu menanggapi serius apabila melihat penampakan pulung gantung. “Dengan begitu, upaya melakukan bunuh diri bisa berkurang,” harapnya. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan