Menristekdikti Keluhkan Riset Perguruan Tinggi

Kuliah Umum: Menristekdikti Prof H Mohamad Nasir PhD Ak saat menyampaikan kuliah umum di UAD Jogjakarta, Kamis (22/3).

Kuliah Umum: Menristekdikti Prof H Mohamad Nasir PhD Ak saat menyampaikan kuliah umum di UAD Jogjakarta, Kamis (22/3).

JOGJA – Mutu perguruan tinggi di Indonesia masih kalah jauh dibandingkan dengan perguruan tinggi yang ada di Singapura dan Thailand. Salah satunya, kualitas riset perguruan tinggi di Indonesia yang masih sangat rendah meski sudah menyerap banyak biaya. Kemenristekdikti (Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi) pun bermaksud memetakan kembali riset di Indonesia.

“Kebanyakan riset di Indonesia hanyalah riset dasar. Riset terapan masih sangat kurang. Apalagi riset yang inovatif. Apalagi riset inovatif yang sophisticated,” ujar Menristekdikti (Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi), Prof H Mohamad Nasir PhD Ak, saat memberikan kuliah umum di UAD (Universitas Ahmad Dahlan) Jogjakarta, Kamis (22/3).

Ada 107 riset yang dikatakan inovatif pada 2014 dengan biaya Rp 1,2 triliun. Tapi dari sejumlah riset tersebut ternyata hanya tujuh yang bisa diindustrikan. Selebihnya tak bisa diterapkan. “Karenanya perlu perubahan. Riset, ke depan, harus didekatkan dengan demand side. Harus memerhatikan betul market driver-nya seperti apa,” tegas Nasir.

Selain riset, Kemenristekdikti juga mendorong peningkatan kualitas perguruan tinggi melalui akreditasi. Jumlah perguruan tinggi swasta yang mengantongi akreditasi institusi ‘A’ saat ini hanya sembilan perguruan tinggi. Tapi itu sudah cukup baik karena sebelumnya hanya dua perguruan tinggi swasta yang memiliki akreditasi institusi ‘A’.

“Untuk mendorong lebih banyak lagi perguruan tinggi dengan akreditasi ‘A’, saya akan hilangkan dikotomi antara perguruan tinggi negeri dengan perguruan tinggi swasta. Ini harus dilakukan sebagai salah satu upaya untuk mengejar ketertinggalan kualitas perguruan tinggi kita dibandingkan perguruan tinggi lain di negara tetangga. Apalagi, undang-undang pendidikan kita membolehkan adanya perguruan tinggi asing di Indonesia, sehingga dipastikan persaingan akan semakin sengit,” papar Nasir kemudian.

Sebelumnya, Rektor UAD Dr Kasiyarno MHum mengemukakan, UAD saat ini telah mengantongi akreditasi institusi ‘A’. Sedangkan untuk program studi, hanya tinggal beberapa yang masih terakreditasi ‘C’. Belasan program studi telah mengantongi akreditasi ‘A’. Selebihnya akreditasi ‘B’. “Kami mengharapkan dalam waktu yang tak terlalu lama, yang ‘C’ itu bisa menjadi ‘B’ atau ‘A’. Kami optimis harapan itu bisa tercapai,” tuturnya.

Di bidang riset, Kasiyarno membanggakan, universitas yang ia pimpin menjadi perguruan tinggi swasta di Jogjakarta yang menerima hibah penelitian paling banyak dari Kemenristekdikti. Peningkatan jumlah judul penelitian juga cukup menggembirakan. Pada 2016/17 ada 80 judul penelitian dan pada 2017/18 meningkat menjadi 115 judul dengan dana hibah sebesar Rp 6,247 miliar. “Kami juga mengucurkan dana penelitian secara internal sebesar sembilan miliar rupiah, di luar dana hibah tersebut,” tandasnya.

Peningkatan kualitas UAD sebagai salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah, menurut Ketua Umum PP Muhammadiyah Dr H Haedar Nashir MSc, sejalan dengan misi dan visi persyarikatan Muhammadiyah secara umum. Terutama terkait dengan pelayanan kepada masyarakat. “Melalui pendidikan, Muhammadiyah ingin memperkaya sumberdaya manusia sehingga menjadi generasi muda yang religius betapapun modernnya. Bagaimanapun negara ini tidak bisa menjadi negara sekular dan liberal,” ujarnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan