Menulis Kelemahan Utama Guru

Guru: Direktur Mandiri Amal Insani, Abdul Ghofur, saat peluncuran empat judul buku, di Magelang, Minggu (7/1), dilanjutkan pelatihan menulis bagi 300 orang guru setempat.

Guru: Direktur Mandiri Amal Insani Foundation, Abdul Ghofur, saat peluncuran empat judul buku, di Magelang, Minggu (7/1), dilanjutkan pelatihan menulis bagi 300 orang guru setempat.

MAGELANG – Era digital saat ini menuntut para guru untuk profesional. Salah satu unsur profesionalitas yang harus dimiliki, kemampuan menulis. Namun, sayangnya, kemampuan menulis itu pula yang masih menjadi kelemahan utama sebagian besar guru di Indonesia. Karena itu sangat penting menguasai kemampuan menulis.

“Mungkin sudah banyak guru yang memahami teori menulis. Itu saja belum cukup. Perlu kemauan keras agar teori itu bisa mewujud menjadi sebuah karya tulis,” ungkap Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Magelang, Haryono MPd, di hadapan 300 orang guru peserta Public Training, Launching Buku, & Talkshow Sekolah Tuntas, Sekolah Berkualitas, di Borobudur, Magelang, Minggu (7/1).

Salah satu bukti kelemahan menulis, imbuh Haryono, biasanya pangkat dan golongan para guru berhenti pada IVa. “Untuk lanjut ke IVb ada persyaratan karya tulis dan itu seringkali menjadi hambatan para guru. Karenanya, kami memberikan apresiasi kepada Mandiri Amal Insani Foundation yang menggelar acara ini,” katanya.

Direktur MAIF (Mandiri Amal Insani Foundation), Abdul Ghofur mengemukakan, selain pelatihan menulis bagi para guru, diluncurkan pula empat judul buku, serta talkshow guna meningkatkan kembali motivasi para guru untuk mengajar.

Program lain yang sedang dilakukan MAIF, lanjut Ghofur, melakukan pendampingan kepada dua sekolah. Masing-masing Madrasah Ibtidaiyah Maarif Kenalan dan SD Muhammadiyah Candirejo, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. “Pendampingan untuk meningkatkan kualitas sekolah, itu akan kami jalankan selama dua tahun,” jelasnya.

Pendampingan dilakukan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, mulai dari sekolah itu sendiri, para orangtua murid, hingga instansi terkait seperti Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Kanwil Kementerian Agama setempat. “Jadi, bukan kami semata memberikan tapi ada timbal balik sehingga ada pula partisipasi dari mereka yang menerima,” ujar Ghofur.

Pemilihan sekolah sasaran, juga berdasarkan penelitian dan pengamatan secara cermat. Dengan demikian, diharapkan pendampingan bisa lebih tepat sasaran. “Jadi, ketika kami memutuskan satu sekolah yang akan menerima pendampingan, itu bukan berdasarkan keinginan tapi memang benar-benar berdasarkan kebutuhan,” papar Ghofur.

Kepala Sekolah MI Maarif Kenalan, Sulasman MPd mengakui, pendampingan yang dilakukan MAIF sangat mengena sesuai dengan yang kami butuhkan untuk meningkatkan kualitas sekolah. “Selain bantuan infrastuktur berupa pembangunan salah satu ruang belajar, MAIF juga mendampingi saat kami menyusun renstra sekolah. Juga hal lain, hingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan bagi para siswa.” (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan