Minim Apresiasi Karya Budaya Anak Bangsa

sukamta
JOGJA – Membangun nasionalisme tidak harus dilakukan dengan menyampaikan pidato, atau ceramah-ceramah di dalam ruangan. Peningkatan nasionalisme bisa dilakukan dengan menampilkan karya-karya budaya anak bangsa. Misal, karya film Sultan Agung yang saat ini sedang diputar di beberapa bioskop nasional.

“Karya-karya budaya semacam itulah yang mestinya memperoleh apresiasi. Jika perlu, pemerintah memberikan subsidi. Sayang, penghargaan terhadap karya budaya anak bangsa semacam itu masih sangat minim,” ungkap anggota Komisi I DPR RI, Sukamta, sebelum nonton bareng film Sultan Agung, di Jogjakarta, Minggu (2/9) malam.

Sukamta menilai, film karya sutradara Hanung Bramantyo itu memang sarat dengan nilai-nilai nasionalisme. Karena itu pula Sekretaris Fraksi PKS DPR RI itu berinisiatif mengajak anak-anak muda, generasi milenia, untuk nonton bareng film tentang Raja Mataram yang secara kukuh berani menentang dominasi VOC pada zaman itu.

“Kami sejak 2014 sebenarnya telah mendorong negara, lemhanas, untuk memfasilitasi bahkan bila perlu mensubsidi seluruh pelaku produk budaya yang menguatkan nasionalisme. Melalui media budaya, seperti film, komik, dan lain-lain, mestinya peningkatan kesadaran nasionalisme bisa efektif. Sayang, produk budaya semacam itu kurang. Termasuk penghargaannya,” kata Sukamta.

Tayangan cerita, sinetron, dan semacamnya di televisi sangat jarang yang mengangkat cerita-cerita budaya, atau cerita sejarah bertemakan nasionalisme. “Kalau pun ada sinetron semacam itu yang diangkat hanya mitos-mitosnya. Inti cerita yang sebenarnya penuh nilai sejarah atau nasionalisme justru ditinggalkan,” tutur Sukamta kemudian.

Perlu media baru untuk meningkatkan kesadaran nasionalisme pada generasi muda. “Perlu diperbanyak cerita-cerita dengan latarbelakang sejarah kehidupan pahlawan nasional, seperti film Sultan Agung ini. Kami serius untuk mendukung karya-karya budaya semacam ini,” katanya.

Sosok Sultan Agung sendiri, menurut Sukamta, bukan hanya Raja Mataram tapi juga Raja Nusantara. Kekuasaannya hampir sama dengan kekuasaan zaman Majapahit, atau kerajaan Palembang zaman dulu. Juga salah seorang raja yang berani melawan penjajah. “Fakta-fakta semacam itu yang perlu diketahui generasi sekarang, bahkan seluruh komponen bangsa,” tandas Sukamta.

Di mata Sukamta, sosok pekerja seni seperti Hanung pun jumlahnya tidak banyak. Bisa dihitung dengan jari. Karena itu negara perlu mendorong, jika perlu memberikan subsidi bagi budayawan yang mengangkat tema-tema nasionalisme. “Kita miskin tema-tema semacam itu. Sebenarnya kita kaya, tapi jarang dieksplor,” papar Sukamta lebih jauh. (rul).

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan