Model Harus Miliki Sikap Ini

Model: Arby Vembria (kanan) dan Sekartaji Ayu Wangi (kiri) mengapit Jo salah seorang siswa AVMS, seorang tunarungu yang berhasil dikembalikan kepercayaan dirinya hingga bertekad kuat menjadi seorang model fesyen.

Model: Arby Vembria (kanan) dan Sekartaji Ayu Wangi (kiri) mengapit Jo salah seorang siswa AVMS, seorang tunarungu yang berhasil dikembalikan kepercayaan dirinya hingga bertekad kuat menjadi seorang model fesyen.

JOGJA – Model fesyen merupakan profesi yang memerlukan kerja keras dan kerja sungguh-sungguh. Jauh dari hedonisme maupun glamour seperti yang disangka banyak orang selama ini. Bahkan melalui langkah yang tepat, profesi model fesyen bisa mengharumkan nama bangsa.

“Itulah yang saya jalani selama ini,” ungkap Arby Vembria, tanpa bermaksud menyombongkan diri, seorang model fesyen internasional asal Jogjakarta, di sela grand launching sekolah modelnya, AVMS (Arby Vembria Modelling School), di Jalan Kaliurang Km 9,2 Jogjakarta, Kamis (24/1) sore.

Arby yang lahir dan besar di Jogjakarta boleh dikata merupakan model fesyen pria pertama asal Indonesia yang mampu menembus daratan Eropa. Bersama segudang mimpinya, pada awalnya ia memutuskan hijrah ke Jakarta dan Singapura. Hingga akhirnya menemukan sebuah agensi di Singapura yang menaunginya hingga kini.

Berbekal segudang prestasi dan perjalanan karier yang ia miliki selama lebih kurang delapan tahun, Arby memutuskan pulang kampung. dan mendirikan sekolah model tersebut. “Saya meyakini, banyak potensi yang kita miliki. Melalui pendidikan dan pembekalan yang tepat pasti akan mampu berbicara di dunia internasional,” tuturnya.

Selain pendidikan dan pembekalan yang tepat, sikap percaya diri yang kuat pun harus dimiliki seorang model fesyen. “Selain percaya diri, sikap disiplin, kerja keras, dan komunikasi yang baik juga harus dimiiki seorang model fesyen,” papar Arby kemudian.

Hal semacam itu pula yang menjadi ciri khas sekolah model tersebut. “Bukan hanya mengajarkan seseorang menjadi model yang hanya mahir berjalan di atas panggung, berakting, berpose, tapi kami ingin melahirkan lulusan fashion model dengan rasa percaya diri yang tinggi disertai kepribadian yang kuat seutuhnya,” tandas Arby.

Karena itu pula dalam silabus pengajarannya, AVMS melengkapinya dengan Stop Bullying System yang membawa gerakan positif untk menepis terpaan perundungan pada remaja dan mepersiapkan mereka untuk tampil lebih aktif dan percaya diri.

Seorang psikoterapis, Sekartaji Ayu Wangi, mengapresiasi metoda yang dikembangkan AVMS terkait perundungan terhadap para remaja. “Stop bullying sangat penting untuk memberikan rasa percaya diri pada seseorang. Khusus untuk remaja, peran orangtua pun sangat diperlukan,” ujarnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan