Mu’allimaat Jadi Teladan Sepanjang Masa

Mu'allimaat: (kiri-kanan) Agustyani Ernawati, Noordjannah Djohantini, Alfian Dharmawan, Syafiq Abdul Mut'ie saat launching Milad 1 Abad Mu'allimaat Muhammadiyah Jogjakarta, di sekolah tersebut, Minggu (22/7).

Mu’allimaat: (kiri-kanan) Agustyani Ernawati, Noordjannah Djohantini, Alfian Dharmawan, Syafiq Abdul Mut’ie saat launching Milad 1 Abad Mu’allimaat Muhammadiyah Jogjakarta, di sekolah tersebut, Minggu (22/7).

JOGJA – Sekolah khusus puteri yang didirikan KH Ahmad Dahlan, Madrasah Mu’allimaat Muhammadiyah Jogjakarta tahun ini menapaki abad ke-2. Sekolah puteri untuk tingkat SMP dan SMA itu pun diharapkan terus meningkatkan kualitas. Terus menjadi ujung tombak bagi persyarikatan, terutama Aisyiyah. Mereka pun bertekad untuk mendidik dan meluluskan puteri-puteri terbaik menyongsong generasi emas Indonesia 2045 mendatang.

“Teruslah berkembang menjadi pusat keunggulan. Menjadi sekolah teladan sepanjang masa yang diidam-idamkan anak-anak muda,” pesan Ketua BPH (Badan Pembina Harian) Mu’allimaat, Alfian Dharmawan, pada acara launching Milad 1 Abad Mu’allimaat Muhammadiyah, di sekolah tersebut, Suronatan Jogjakarta, Minggu (22/7).

Launching 1 Abad Mu’allimaat yang dihadiri beberapa mantan guru, alumnus beberapa angkatan, serta segenap siswi itu juga ditandai dengan peluncuran lagu 1 Abad Mu’allimat yang syairnya ditulis Ketua Umum Aisyiyah Hj Noordjannah Djohantini dengan aransemen Dwiki Dharmawan, serta peluncuran logo. Puncak acara peringatan satu abad itu sendiri akan dilaksanakan 8 Desember mendatang bersama dengan 1 Abad Mu’allimin.

Sejak didirikan KH Ahmad Dahlan pada 1918, imbuh Alfian, hingga kini Mu’allimaat telah meluluskan ribuan puteri-puteri terbaik yang kini menjadi tokoh bagi bangsa, umat, maupun masyarakat. Dan saat ini kiprah Mu’allimaat pun masih terus dinanti. “Harus diakui negeri ini saat ini masih mengalami lemah sumberdaya manusia, sumberdaya ekonomi, sumberdaya informasi dan komunikasi, serta lemah sumberdaya politik,” katanya.

Mencermati kondisi itu Muhammadiyah, termasuk Mu’allimaat harus selalu mengawal politik negeri ini. “Politik akan selalu menjadi bagian dari kita semua. Tak ada sesuatu yang tak berkaitan dengan politik. Karenanya umat Islam harus peduli dengan politik untuk menyejahterakan masyarakat. Muhammadiyah dan Mu’allimaat harus berpartisipasi,” tandas Alfian.

Safiq Abdul Mut’ie mewakili PP Muhammadiyah mengemukakan, Mu’allimaat harus terus berkembang sehingga senantiasa menjadi pusat keunggulan. “Mu’allimaat memilki makna yang sangat penting bagi Muhammadiyah. Menjadi salah satu aset penting yang telah melahirkan kader-kader terbaik persyarikatan. Kualitas menjadi kunci untuk kemajuan itu,” katanya.

Ketua Umum PP Aisyiyah Hj Noordjannah Djohantini mengharapkan, siswa maupun alumni Mu’allimaat harus menjadi ujung tombak Aisyiyah. “Selalu semangat dan menjadi kader militan bagi persyarikatan guna mengisi kehidupan kebangsaan dengan niai-nilai Islam yang berkemajuan. Kiai Ahmad Dahlan tak membedakan pria dan perempuan. Pria dan perempuan sama mulianya. Semuanya setara,” tuturnya kemudian.

Direktur Mu’allimaat, Agustyani Ernawati mengemukakan, saat ini sekolah yang dipimpinnya memiliki 1.098 siswi yang berasal dari 33 provinsi. Didirikan pada masa penjajahan ketika KH Ahmad Dahlan menyaksikan kondisi pendidikan perempuan yang masih rendah. “Kini madrasah ini telah berusia satu abad. Dan saat ini kami mengembangkan kompetensi keilmuan, kepribadian, kecakapan, sosial kemasyarakatan, dan kompetensi pergerakan,” paparnya.

Tantangan ke depan akan semakin besar. “Kondisi itu membuat kami tak ingin terlena dan selalu bercermin kepada para pendiri sebagai inspirasi agar terus bisa menjadi pusat keunggulan bagi perempuan berkemajuan. Sekaligus berperan strategis guna menyiapkan serta menyongsong generasi emas Indonesia pada 2045 mendatang,” ujar Agustyani lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan