Muhammadiyah Akan Tegur Kader Berpolitik Praktis

H Haedar Nashir

H Haedar Nashir

JOGJA – Sebagai ormas keagamaan, kemasyarakatan, sudah semestinya Muhammadiyah memberikan politik pencerahan. Tetap aktif berpolitik jika itu demi kebaikan bangsa dan negara. Tapi tidak perlu juga terlalu jauh berpolitik praktis, bahkan berpandangan politik melebihi penalaran dogma agama.

“Kami akan memanggil sekaligus menegur kader yang terlalu jauh berpolitik praktis. Paling tidak setelah Sidang Tanwir yang akan dilaksanakan pertengahan bulan ini di Bengkulu,” ujar Ketua Umum PP (Pimpinan Pusat) Muhammadiyah, Dr H Haedar Nashir MSi, usai menghadiri pembukaan seminar pra tanwir, di kampus UMY (Universitas Muhammadiyah Yogyakarta), Senin (11/2).

Haedar pun mengaku prihatin, kehidupan politik di Indonesia saat ini sudah tidak tercerahkan. “Terlalu cenderung ke politik sebagai power struggle sehingga yang ada hanya kekuasaan dan ujungnya kalah menang,” katanya.

Gara-gara politik pula, telah terjadi pendangkalan dalam kehidupan keagamaan. Ayat-ayat seringkali hanya dikutip untuk kepentingan tertentu. Bahkan menimbulkan pertentangan di dalam negara. Celakanya, menjadi tidak toleran dan terjadi pertentangan di kalangan umat sendiri. “Mungkin juga di Muhammadiyah ada orang-orang seperti itu,” ujar Haedar kemudian.

Sering pula paradoksal. Orang yang fasih beragama, sholatnya tekun, umrah berkali-kali namun kemudian menafsirkan kebangkitan agama menjadi yang sangat dogmatis. Ujung-ujungnya menjadi sangat sensitif dan inklusif. “Tak lagi mengembangkan toleransi, tapi justru terjun ke dunia politik praktis secara berlebihan,” papar Haedar.

Politik saat ini, lanjut Haedar, pun terlalu dibawa pada dogma agama yang melebihi takaran. Seolah akan kiamat apabila tidak merujuk ke kubu tertentu. Padahal kita melangsungkan pemilu itu sudah beberapa kali dan setelahnya aman-aman saja. “Ada problem bangsa yang harus dipecahkan, memang. Tapi jangan kemudian mengarahkan nalar masyarakat ke sumbu pendek,” kritiknya.

Karena itu, Muhammadiyah akan memanggil dan menegur kader-kadernya yang terlalu jauh terlibat ke dalam politik praktis. “Kalau kader-kader yang muda sudah kami tegur,” tutur Haedar seraya menegaskan, siapapun yang menang atau kalah, nantinya tetap menjadi aset bangsa yang penting.

Rektor UMY Dr Gunawan Budiyanto MP mengemukakan, pada kesempatan seminar pra sidang tanwir, diluncurkan pula buku tentang Muhammadiyah buah karya beberapa penulis. “Sedianya juga akan menhadirkan Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan untuk menyampaikan kuliah umum, tapi kemudian pamit karena kesibukan yang sangat padat,” ungkapnya lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan