Muhammadiyah Khawatirkan Lingkungan

Lingkungan: Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Muhjidin Mawardi, saat menyampaikan refleksi akhir tahun di bidang lingkungan, di kampus UMY, Kamis (14/12).

Lingkungan: Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, Muhjidin Mawardi, saat menyampaikan refleksi akhir tahun di bidang lingkungan, di kampus UMY, Kamis (14/12).

JOGJA – Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah bekerjasaman dengan International Program of Governmental Studies – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (IGOV-UMY) menggelar diskusi publik Refleksi Akhir Tahun dan Pernyataan Sikap Kondisi Lingkungan Hidup Indonesia, di kampus UMY, Kamis (14/12).

Acara tahunan diskusi tentang bencana dan memberikan solusi dalam upaya penyelesaian permasalahan lingkungan yang dihadapi masyarakat itu menghadirkan narasumber Ketua MLH PP Muhammadiyah Prof Dr Muhjidin Mawardi, anggota MLH PP Muhammadiyah Prof Dr Bakti Setiawan, dosen Fakultas Teknik UGM Prof Dr Sunjoto, dan staf Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Dr Tasdiyanto Rohadi.

Muhjidin menyampaikan, bencana saat ini harus menjadi perhatian khusus pemerintah maupun elemen masyarakat, mengingat akhir-akhir ini bencana alam di Indonesia sudah terjadi di beberapa wilayah dan menelan banyak korban jiwa serta banyak merusak infrastruktur.

Saat ini aspek lingkungan harus menjadi perhatian pemerintah maupun masyarakat. Jika kita adil terhadap lingkungan akan meminimalisir bencana. “Tak hanya perbuatan seseorang yang bisa merusak alam tetapi perbuatan sekolompok orang juga akan mengakibatkan kerusakan alam,” papar Muhjidin.

Muhammadiyah menyadari bencana lingkungan yang terjadi di tanah air seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, kebakaran hutan, degradasi lahan, hilangnya keragaman hayati, polusi udara dan air, serta bencana-bencana lainnya, akibat perilaku dan perbuatan manusia.

Penyelesaian permasalahan harus dimulai dari melakukan perubahan fundamental cara pandang masyarakat terhadap alam lingkungannya. “Dibutuhkan revolusi moral agar terjadi perubahan sikap, perilaku dan gaya hidup atau akhlak masyarakat,” tandas Muhjidin.

Penyelamatan dan perlindungan lingkungan merupakan kewajiban sekaligus amanah yang harus diemban dalam rangka membangun masyarakat menuju masyarakat sejahtera yang diridhoi Allah. “Gerakan penyadaran dan perubahan perilaku masyarakat bisa melalui dakwah dan pendidikan lingkungan kepada jutaan siswa dan mahasiswa di lembaga pendidikan Muhammadiyah,” sarannya.

Akar masalah bencana secara umum, rendahnya moral para pemangku kepentingan dalam pengelolaan hutan, serta tatakelola hutan yang tak bisa dilaksanakan secara efektif di lapangan karena tata-ruang yang masih lemah dan tak ada sanksi tegas.

Selain itu, kepemilikan lahan, batas-batas kawasan dan hak guna lahan yang tak jelas, keberadaan masyarakat adat dan status hutan adat yang tak selesai, unit manajemen hutan yang tak efektif karena sistem dan organisasinya belum terbangun dan kapasitas personilnya masih rendah.

“Dasar hukum dan penegakan hukum pun masih lemah, serta tata-pengaturan yang lemah terutama dalam hal koordinasi inter dan antar lembaga terkait, kurangnya transparansi dan partisipasi para pihak, serta tidak adanya kesepakatan pembagian pendapatan dari sektor hutan antara daerah dan pusat,” tandas Muhjidin. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan