Nikmati Gudeg Asli Jogja Di Negeri Orang, Mengapa Tidak?

Laboratorium: Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto di salah satu laboratorium baru, di STTN Batan Jogjakarta.

Laboratorium: Kepala Batan Djarot Sulistio Wisnubroto di salah satu laboratorium baru, di STTN Batan Jogjakarta.

JOGJA – Sudah ada gudeg asli Jogja dalam kaleng saat ini yang tahan sekitar 12 bulan. Namun, tak lama lagi, semua orang akan bisa menyimpan gudeg dalam waktu lebih lama lagi. Batan (Badan Tenaga Nuklir Nasional) punya cara untuk mengawetkan makanan, bahkan hingga 18 bulan. Jadi jangan heran, jika kelak orang akan bisa menikmati gudeg asli Jogja ketika berada di negeri orang.

“Saat ini kami sedang melakukan penelitiannya. Membutuhkan waktu agak lama karena gudeg memiliki elemen makanan yang cukup banyak pula. Ada ayamnya, telur, tahu, tempe, hingga krecek. Masing-masing memerlukan pengawetan berbeda-beda,” ujar Kepala Batan, Prof Dr Djarot Sulistio Wisnubroto, usai meresmikan asrama dan dua laboratorium baru di STTN (Sekolah Tingggi Teknologi Nuklir) Batan, Jogjakarta, Selasa (19/12).

Melalui proses iradiator, Batan telah mampu mengawetkan rendang hingga tahan 18 bulan. Proses iradiator pada prinsipnya mematikan mikroorganisma atau zat pembusuk di dalam makanan sehingga makanan tersebut tak akan cepat busuk, alias tahan lama. “Rendang agak mudah karena unsurnya hanya daging. Tidak seperti gudeg,” jelas Djarot kemudian.

Tapi, imbuh Djarot, penelitian pengawetan gudeg barangkali akan bisa dipercepat karena STTN Batan Jogja kini sudah memiliki laboratorium iradiator gamma. “Meski kapasitasnya relatif kecil, namun tetap saja bisa difungsikan untuk memproses pengawetan makanan. Jadi, pengawetan gudeg tak harus jauh-jauh hingga ke Serpong Jawa Barat seperti selama ini,” paparnya lebih jauh.

Ketua STTN Batan Jogjakarta, Edi Giri Rahman Putra mengemukakan, laboratorium iradiator gamma yang baru saja diresmikan memiliki aktivitas 12 kilo curri (kCi). Jauh lebih kecil dibandingkan milik Batan yang ada di Serpong dengan aktivitas 300.000 kCi. “Laboratorium yang ada di kampus kami ini memang lebih dimaksudkan untuk pendidikan dan penelitian. Tidak untuk komersial seperti yang di Serpong,” urainya.

Selain laboratorium iradiator gamma, satu lagi laboratorium baru yang ada di STTN adalah fasilitas DCS (Distributed Control System). “Fasilitas DCS memungkinkan seluruh proses di suatu pabrik atau industri bisa dikontrol atau dikendalikan dengan cepat dan mudah karena bisa dilihat hanya melalui satu monitor komputer,” jelas Giri.

Sedangkan asrama tiga lantai yang baru saja selesai pembangunannya itu diperuntukkan bagi mahasiswa, dosen tamu, maupun siapa saja yang membutuhkan. “Penting karena lebih dari separo mahasiswa kami berasal dari luar DIJ dan Jawa Tengah. Terkait dosen tamu, dengan tinggal di asrama interaksi dengan mahasiswa maupun dengan dosen yang lain akan lebih intens,” papar Giri kemudian

Sebagai ujud apresiasi kepada para pendahulu Batan, laboratorium iradiator diberi nama Laboratorium Iradiator Dr Mirzan T Razzak MEng. Sedangkan asrama diberi nama Dormitory Dr Sutomo Budihardjo MEng. “Laboratorium iradiator di STTN ini merupakan laboratorium ketiga yang dimiliki Batan. Sedangkan fasilitas DCS bisa digunakan tiga prodi, Teknokimia Nuklir, Elektronika Instrumentasi, dan Elektro Mekanika,” tandas Djarot. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan