Nuklir Tak Harus Picu Perang Dunia

Guru dan Nuklir: (kiri-kanan) Dimas Irawan, Jane Gerardo-Abaya, Edy Giri Rachman Putra menjelaskan tentang pelatihan teknologi nuklir bagi para guru se Asia Pasifik, di STTN Batan Jogjakarta, akhir April 2018.

Guru dan Nuklir: (kiri-kanan) Dimas Irawan, Jane Gerardo-Abaya, Edy Giri Rachman Putra menjelaskan tentang pelatihan teknologi nuklir bagi para guru se Asia Pasifik, di STTN Batan Jogjakarta, akhir April 2018.

JOGJA – Nuklir. Mendengar sebutan itu langsung yang terpikirkan dalam benak banyak orang adalah senjata mematikan. Tak sedikit yang beranggapan pengembangan senjata nuklir bisa memicu perang dunia. Hal itu tak sepenuhnya benar. Kehidupan sehari-hari kita selama ini sebenarnya dilingkupi dengan teknologi nuklir. Bahkan teknologi nuklir banyak pula dimanfaatkan di bidang kesehatan, pertanian, maupun bidang-bidang lainnya.

Teknologi nuklir untuk kehidupan sehari-hari dan pengembangannya untuk penelitian berbagai bidang itulah yang kemudian oleh IAEA (Badan Tenaga Atom Internasional) bekerjasama dengan BATAN (Badan Tenaga Nuklir Nasional) ditularkan kepada tak kurang dari 27 orang guru asal Asia Pasifik, di STTN (Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir) BATAN Jogjakarta, 16-27 April 2018.

“Kami menyampaikan kepada para guru tersebut tentang perkembangan terbaru pemanfaatan teknologi nuklir untuk kehidupan sehari-hari sehingga pengetahuan mereka tentang teknologi nuklir akan komprehensif,” ujar Kepala Seksi Kerjasama Teknis Asia Pacific IAEA, Jane Gerardo-Abaya, usai acara penutupan penyelenggaraan Regional Training Course for Teacher, di STTN BATAN, Jogjakarta itu.

Setelah mengikuti pelatihan itu, diharapkan para guru sekolah setingkat SMA tersebut kemudian menularkan pengetahuan tentang nuklir yang telah mereka dapatkan, kepada para siswa. “Jika seorang guru mengajar lima puluh anak di dalam satu kelas, maka pengetahuan tentang nuklir secara komprehensif akan menyebar luas,” tandas Abaya.

Peserta pelatihan sebanyak 27 orang guru itu berasal dari 16 negara, masing-masing Filipina, Kamboja, Laos, Lebanon, Malaysia, Mongolia, Myanmar, Nepal, Oman, Pakistan, Srilanka, Thailand, Tiongkok, Vietnam, Yordania, dan Indonesia. “Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya IAEA dalam membantu negara-negara anggotanya dalam mengembangkan tenaga kerja masa depan di bidang nuklir,” jelas Ketua STTN BATAN, Edy Giri Rachman Putra.

IAEA sudah melihat dan menilai saat mengadakan pertemuan di STTN dan kemudian memutuskan untuk diusulkan kegiatan pelatihan bagi para guru itu diselenggarakan di STTN. “Kami pun siap dan STTN serta Pusdiklat BATAN dinilai memiliki fasilitas, sumberdaya yang berpengalaman dalam pengembangan SDM serta program pendidikan,” ujar Edy Giri.

Secara teknis kegiatan itu diimplementasikan melalui pengembangan keterampilan dan pengetahuan para guru di bidang iptek nuklir dan metode pengajaran interaktif. Para guru yang lulus dari pelatihan tersebut diharapkan dapat menjadi narasumber di tingkat nasional, yang kemudian bertanggungjawab dalam mentransfer pengetahuan kepada guru lain melalui lokakarya nasional.

Pelatihan sekaligus merupakan bagian dari kegiatan pengabdian STTN BATAN kepada masyarakat dalam menyosialisasikan iptek nuklir. “Penyelenggaraan kegiatan ini memberikan dampak secara nasional, regional, maupun internasional tentang STTN BATAN sebagai institusi pendidikan tinggi khusus tentang teknologi nuklir,” tandas Edy Giri.

Kepala Bidang Diseminasi, Pusat Diseminasi dan Kemitraan BATAN, Dimas Irawan mengatakan, kegiatan ini pertama kali diinisiasi pada 2014 dan Indonesia menjadi salah satu negara percontohan yang berhasil menerapkan program tersebut. Beberapa prestasi yang dicapai Indonesia antara lain, komitmen SMA Negeri 1 Tangerang Selatan untuk menyusun kurikulum khusus iptek nuklir yang dimasukkan sebagai materi pengayaan untuk siswa pada kelas cerdas istimewa.

Komitmen SMA Negeri 2 Tangerang Selatan untuk mengembangkan dan mengimplementasikan RPP (Rencana Pokok Pembelajaran) materi iptek nuklir di sekolah dengan mempertimbangkan kearifan lokal, khususnya untuk meningkatkan kesadaran siswa terkait radiasi lingkungan, proteksi radiasi dan aplikasi radiasi.

Prestasi lain, penerbitan dua buah buku komersial oleh Guru SMA Negeri Surabaya berjudul Nuklir: Sahabat atau Musuh? dan Aku Pintar Nuklir yang berisi materi pembelajaran iptek nuklir yang diserap dari materi Compendium serta Teachers Exchange Programme yang didanai IAEA. Pengenalan Compendium oleh BATAN ke beberapa wilayah di Indonesia melalui aktivitas Edukasi Iptek Nuklir yang diperkirakan melibatkan lebih dari 250 guru dan 2.000 siswa. “Tak ketinggalan, terpilihnya satu orang Guru SMAN 2 Tangerang Selatan sebagai Expert IAEA dalam Regional Teachers Training di Filipina,” papar Dimas. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan