Onde-onde Lele Kaya Protein

 IMG_20170506_190034
JOGJA – Lele, ikan air tawar yang akrab dalam kehidupan keseharian masyarakat. Kandungan protein yang dimiliki cukup tinggi. Dalam protein ikan lele mengandung semua asam amino esensial lisin, metionin, dan leusin dengan kadar protein yang lebih tinggi dibandingkan protein pada susu dan daging.
Pengolahan ikan lele selama ini hanya digoreng atau dibakar. Mahasiswa KKN UNY di dusun Salakan, Bangunjiwo, Kasihan, Bantul, DIJ pun kemudian menawarkan cara pengolahan lele yang berbeda dari yang pernah ada, dengan diolah menjadi onde-onde, satu makanan tradisional Jawa. “Kami juga merencanakan pembudidayaan lele di dusun ini,” ujar salah seorang mahasiswa, Zulistiya Pratika.
Pelatihan pembuatan onde-onde ikan lele yang dipandu Suwarmi, praktisi olahan lele warga Margokaton, Seyegan, Sleman, DIJ itu membutuhkan bahan, satu kilogram tepung terigu, setengah kilogram gula pasir, dua sendok makan baking powder, 300 gram mentega, dua sendok teh vanili, dua sendok teh garam halus, dua butir telur, seperempat kilogram wijen, dua liter minyak goreng, dan seperempat kilogram ikan lele.
Cara pembuatannya, ikan lele direbus lalu dihaluskan menggunakan blender selama 15 menit. Masukkan gula, telur, mentega, garam, vanili dan kocok sampai putih. Setelah itu masukkan tepung terigu, baking powder, dan ikan lele yang telah diblender, kemudian dicampur hingga merata.
Selanjutnya adonan tadi dibuat menjadi bulatan kecil-kecil, dicelupkan dalam air dan dilumuri wijen hingga merata. “Adonan digoreng hingga matang berwarna kekuningan dan siap disajikan,” ujar Pratika kemudian.
Dalam satu porsi ikan lele ternyata mengandung gizi yang cukup banyak. Antara lain 220 mg asam lemak omega-3 dan 875 mg asam lemak omega-6. Pun, mengandung 15,6 gram protein yang akan memenuhi semua kebutuhan asam amino yang dibutuhkan tubuh.
Kandungan phospor pada ikan lele yang mencapai 167 mg/100 gr terbukti lebih tinggi daripada yang terkandung di dalam telur yang hanya 100 mg. “Phospor bemanfaat untuk memberi kekuatan dan energi dalam metabolisme lemak dan pati, menjadi penunjang kesehatan gusi dan gigi, membantu sistesis DNA, serta membantu penyerapan atau pemakaian kalsium,” papar Pratika.
Salah seorang peserta pelatiha, Nopita mengakui, pelatihan sangat berguna bagi mereka karena bisa mengetahui cara lain dalam mengolah lele. “Sebelumnya, belum pernah ada pelatihan lele seperti ini. Kami mengharapkan, selanjutnya bisa diberi pelatihan pengolahan lele yang lain, seperti pengolahan kulit lele menjadi krispi, atau kepala lele yang diolah menjadi kerupuk,” katanya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan