Ontologi Dinamis Pengetahuan Herbal

IMG_20170626_183616
Dhomas Hatta Fudholi (kanan) dan dosen pembimbing Dr Izzata
JOGJA – Semakin banyak masyarakat memanfaatkan bahan herbal sebagai upaya pengobatan suatu penyakit. Namun, belum ada standar pengetahuan yang bisa dijadikan rujukan secara pasti. Penggunaan bahan herbal sebagai pengobatan alami atau tradisional selama ini lebih banyak berdasarkan pengalaman. Tak jarang hanya berdasarkan ‘katanya’.
Kenyataan itu mengusik Dhomas Hatta Fudholi ST MEng PhD, untuk menyatukan sekaligus menyarikan pengetahuan tentang bahan herbal dari berbagai belahan dunia ke dalam satu aplikasi digital. Sekaligus ia jadikan sebagai bahan disertasi untuk mmeperoleh gelar doktor di bidang Teknik Informatika pada Pascasarjana FTI UII.
Ontologi, jelas Hatta, merupakan sebuah representasi pengetahuan yang kaya. Mendeskripsikan konsep dan terminologi di dalam sebuah domain tertentu beserta relasi, properti, dan batasan-batasannya. Dituliskan dengan bahasa formal yang dapat dimengerti mesin dan manusia, sehingga dapat dengan mudah dibagikan.
“Sedikit berbeda dengan ensiklopedia yang biasanya hanya berisi deskripsi tentang satu hal. Bahkan ontologi yang saya kembangkan bersifat dinamis. Artinya, terbuka untuk penambahan fakta atau pun temuan baru sehingga akan memperkaya pengetahuan tentang satu bahan herbal tertentu,” tutur Hatta kemudian.
Sifat dinamis sangat penting mengingat komunitas dan masyarakat memiliki pengetahuan yang terus berkembang dan berharga bagi lingkup yang lebih luas ketika dibagikan. Pengetahuan itu kemudian dapat disarikan menjadi pengetahuan umum. Sekaligus menjadi penyelarasan pengetahuan ketika studi formal dan standar global belum ada.
Pada penelitian doktoralnya, itu Hatta membangun model dan kerangka kerja atau framework untuk mengumpulkan dan membuat sebuah standar global pengetahuan umum herbal dalam bentuk ontologi yang kaya dan bersumber dari berbagai komunitas dan masyarakat.
Hatta memilih domain pengetahuan herbal karena pengetahuan dalam domain herbal belum memiliki standar yang diterima secara global meski sudah ada studi yang membangun ontologi untuk domain ini, seperti Thai herb, Indonesian medicinal plants, dan traditional Chinese medicine.
Domain herbal juga masih mempunyai pemahaman beragam karena setiap daerah atau negara memiliki praktik yang berbeda. Di Tiongkok, misalnya, jahe digunakan untuk mengobati flu, muntah-muntah, dan diare; di Thailand untuk mengobati perut yang tidak nyaman dan gangguan pencernaan; di Indonesia untuk menyembuhkan sakit perut dan penambah nafsu makan.
Pemahaman tentang jahe tersebut, tutue Hatta, meski beragam namun masih memiliki kesamaan yakni untuk mengatasi gangguan di seputar perut. “Ada kalanya perkembangan pengetahuan dalam domain herbal tidak selalu memperkaya pengetahuan sebelumnya.”
Teh hijau, misalnya. Sebuah penelitian pada Februari 2016 menyebutkan bisa mengobati penyakit sendi, tapi pada Juni 2016 diteliti kembali dan disebutkan mampu juga untuk mengobati down syndrome.
Tak jarang memunculkan kontradiksi. Terdapat hasil studi yang berbeda di waktu beda untuk echinachea. Ada studi yang menyebutkan efektif untuk mengurangi gejala flu, tapi ada studi yang menyebutkan sebaliknya.
Pada kasus kontradiktif seperti itu, Hatta telah menyediakan ‘nilai keyakinan’ pada aplikasinya. Ada skor tertentu bagi satu pengetahuan yang ditemukan sehingga masyarakat dapat menentukan pengetahuan mana yang bisa lebih ia yakini dan mana yang tidak.
“Yang jelas, aplikasi ontologi dinamis pengetahuan herbal ini saya harapkan akan memudahkan masyarakat ketika ingin mengetahui tentang satu bahan herbal tertentu. Bisa juga menjadi rujukan manakala harus melakukan pengobatan menggunakan bahan herbal,” papar Hatta lebih jauh. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan