Orangtua Inspirator Wisudawan Terbaik UAD

Wisuda: Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum menyalami salah seorang wsudawan pada upacara wisuda periode Maret 2019, di gedung JEC Jogjakarta, Sabtu (23/3).

Wisuda: Rektor UAD, Dr Kasiyarno MHum menyalami salah seorang wsudawan pada upacara wisuda periode Maret 2019, di gedung JEC Jogjakarta, Sabtu (23/3).

JOGJA – Universitas Ahmad Dahlan, Jogjakarta mewisuda 884 orang lulusan S1 dan S2, di gedung Jogja Expo Center, Sabtu (23/3). Sebanyak 277 wisudawan berhasil lulus dengan predikat cumlaude. Empat orang wisudawan terbaik mengaku terinspirasi dengan kegigihan dan kesederhanaan orangtua mereka hingga mampu mencapai prestasi di atas rata-rata.

Rektor UAD (Universitas Ahmad Dahlan), Dr H Kasiyarno MHum mengemukakan, 884 lulusan terdiri dari 771 wisudawan S1 dan 113 wisudawan S2. Sebanyak 277 wisudawan meraih predikat cumlaude, masing-masing 241 wisudawan S1 dan 36 wisudawan S2.

Wisudawan Terbaik I, Bhekti A’inul Fiqih, dengan IPK (indeks prestasi kumulatif) 3,97 mengaku terpacu untuk memperoleh nilai akademik bagus agar tak mengecewakan orangtua. “Biaya kuliah tidak sedikit. Saya selalu terngiang kedua orangtua. Berkat mereka saya bisa sampai sejauh ini,” tuturnya.

Dara kelahiran Pemalang, Jateng itu juga mengungkapkan selalu membayangkan wajah kedua orangtuanya saat belajar. “Selama menempuh studi di UAD saya selalu berusaha dan berpikir bagaimana caranya dapat membantu usaha orangtua sebagai pemasok daging,” ungkap Bhekti dari prodi Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis itu.

Dengan IPK yang sama, wisudawan terbaik lainnya Hanifah Zahro kelahiran Sleman, DIY 22 tahun silam itu berbagi tips, belajar harus dimulai dari kesadaran diri sendiri dan di saat yang tepat. “Jangan memaksakan belajar ketika pikiran dan fisik tidak prima. Belajar harus dengan niat dan fokus pada yang akan diraih ke depan. Ditambah doa, tentunya,” paparnya kemudian.

Sebagai wisudawan terbaik III, Lina Wati Ningsih dengan IPK 3,96 mengemukakan, prestasi akademik yang ia raih tak lepas dari ajaran kesederhanaan dan kegigihan sang ayah yang bekerja sebagai penjual mebel. “Usaha ayah mengalami pasang surut. Ayah merupakan sosok inspiratif yang selalu mengajarkan hidup sederhana,” ujar gadis kelahiran Wonogiri, 12 Oktober 1996 itu.

Lina pun mengaku bangga sekarang ini. “Bukan karena telah lulus tapi karena kesederhanaan dan kegigihan yang diajarkan ayah. Meski bukan dari keluarga berada, ayah sangat memprioritaskan pendidikan. Apapun yang berhubungan dengan pendidikan beliau selalu mendukung dan mengupayakan,” tandasnya. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan