Pamor Basarnas Rangking 7 Terbaik Dunia

JOGJA (jurnaljogja) – Pamor Badan SAR Nasional (Basarnas) sebagai salah satu badan search and rescue terangkat setelah berhasil menjalankan operasi pencarian dan pertolongan terhadap jatuhnya pesawat Air Asia pada Desember 2016. Sehingga Basarnas kini posisinya berada pada rangking ketujuh terbaik di dunia.
    Kepada Basarnas Marsekal Madya TNI FHB. Soelistyo Ssos mengakui, meski dunia mengakui kehebatan Basarnas dalam pencarian dan pertolongan. Namun sejauh ini anggaran yang dikucurkan dari APBN belumlah sesuai seperti diharapkan. Sehingga untuk menambah personil anggota untuk mendukung tindakan cepat bila terjadi bencana atau kecelakaan di laut, darat maupun udara masih kekurangan personil.
“Meski anggaran minim, namun petugas Basarnas yang ada masih bisa menjalankan tugasnya dengan baik. Ini karena Basarnas dalam kerjanya juga didukung SAR gabungan dari TNI/Polri, BPBD dan potensi SAR di tengah masyarakat,” jelasnya di sela Rakor SAR Daerah dan pembentukan forum koordinasi potensi pencarian dan pertolongan (FKP3D) di Jogjakarta, Jumat (29/4). Dalam kesempatan itu juga dicanangkan sosialisasi program SAR Goes To School, diikuti 180 siswa-siswi, mulai tingkat SD, SMP dan SMA serta para guru pendamping.
     Diakui, SAR  tidak bisa bekerja sendiri karena jumlah personil yang ada  minim. Di kantor Yogyakarta saja disebutkan hanya ada 100 petugas Basarnas. Namun dengan SAR gabungan, maka personilnya akan bertambah dan tinggal menentukan pemimpin yang mampu mengorganisasi saat pencarian dan pertolongan jika ada suatu kejadian.
Berkait dengan  anggaran yang minim tersebut, maka untuk pembelian peralatan penunjang SAR diterapkan skala prioritas. Dan,  alat yang dibeli pun dimanfaatkaan seoptimal mungkin.  Soelistyo yakin, angka kejadian kecelakaan  bisa dikurangi karena penyebabnya sebagian besar karena faktor manusia. Sehingga penanaman dini untuk mendapatkan ilmu menyelamatkan diri dirasa perlu dilakukan secara dini. Untuk itu perlunya dilakukan pendidikan sosialisasi secara dini, mulai dari anak tingkat SD, SMP dan SMA.
     Menurutnya, ketika sejak anak-anak dapat ilmu penyelamatan diri, maka ke depannya dapat menyelamatkan orang lain. Yang diharapkan, jangka panjangnya akan terciptanya safety culture pada anak-anak. “Anak-anak harus diberi pemahaman tentang SAR secara komprehensif agar mereka tumbuh menjadi generasi muda yang kuat, tangguh dan memiliki kepdulian terhadap sesama saat terjadi musibah, baik pada kecelakaan, bencana maupun kondisi membahayakan jiwa manusia,” tuturnya.
      Kabasarnas mengakui, safety culture tidak dapat terbentuk dalam waktu dekat, tetapi butuh waktu 5-10 tahun bahkan lebih. Untuk itu pihaknya akan terus mensosialisasikan itu ke anak-anak SD, SMP dan SMA se-Indonesia. (bam)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan