Pancasila Bukan Alat Pemaksa

Pancasila Bukan Alat Pemaksa

JOGJA – Pancasila akan menjadi benteng luar biasa bagi keutuhan bangsa Indonesia. Asalkan, tidak dimaknai secara sepihak oleh orang-orang tertentu maupun kelompok tertentu. Karenanya, Pancasila harus dipelajari, sekaligus diimplementasikan secara serius.

“Jadi, Pancasila akan mejadi benteng yang luar biasa bagi bangsa ini asalkan dimaknai secara baik dan benar. Jangan menjadi alat pemaksa bagi nilai-nilai yang dipahami sekelompok pihak tertentu,” ujar anggota DPR RI, Dr H Sukamta, di Jogjakarta, Selasa (8/10).

Pada forum diskusi Pancasila Jiwa dan Kepribadian Bangsa Indonesia, itu Sukamta juga mengemukakan, Pancasila boleh dikatakan juga sebagai hak hidup bagi segenap bangsa Indonesia. Semua orang harus mempelajarinya secara serius.

“Banyak negara habis karena pertikaian geopolitik. Negara-negara Timur Tengah, juga Eropa di masa lalu, bisa menjadi contoh bangsa yang runtuh akibat perseteruan semacam itu. Beruntung Indonesia memiliki Pancasila, meski hidup sebagai bangsa yang bersuku-suku,” tandas Sukamta dalam forum yang digelar oleh Ditjen Informasi dan Komunikasi Publik, Kominfo RI itu.

Sukamta yang berasal dari fraksi PKS itu juga memuji para founding fathers yang mampu menggali dan menjadikan Pancasila sebagai dasar ideologi kita. “Merupakan suatu hasil pemikiran yang sangat brilian,” tuturnya seraya mencontohkan nilai ke-Tuhan-an yang sangat bagus.

Warga negara Indonesia, jelas Sukamta kemudian, diharuskan mempercayai Tuhan Yang Maha Esa. Namun bagaimana cara menyembah Tuhan, itu persoalan teknis. Setiap warga negara bebas memilih. Terserah apakah akan menyembah dengan cara Islam, Katolik, Kristen, Hindu, Buddha, atau yang lainnya. “Saya menilai itu merupakan satu hasil pemikiran yang sangat bagus,” paparnya lebih jauh.

Mantan Deputi BPIP (Badan Pembina Ideologi Pancasila) Dr Silverius Y Soeharso SE menegaskan, pancasila adalah kita. Dari kita, oleh kita, dan untuk kita. “Karenanya, nilai-nilai Pancasila harus ditanamkan kembali. Kenali, pahami, dan hayati,” katanya kemudian.

Tanpa Pancasila, bangsa Indonesia bisa bubar. “Mainkan isu SARA, Indonesia akan bubar. Dan itu telah dinyatakan pada zaman Gus Dur dahulu. Sekarang, sedikit banyak pernyataan di masa lalu itu telah terbukti. Merebak konflik akibat isu SARA,” ungkap Soeharso. (rul)

Hosting Unlimited Indonesia

Share this post

Post Comment