Pandangan Keagamaan Jangan ‘Myopic’

IMG_20160901_153700
Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
Rektor UIN Suka Jogja saat memindah kuncir toga wisudawan.
JOGJA – Melalui paradigma keilmuan integratif-interkoneksi, lulusan UIN Suka (Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga) Jogjakarta sepatutnya tak memiliki pandangan keagamaan yang ‘myopic’ tapi sebaliknya harus luas dan komprehensif.
“Alumni hendaknya mampu mengembangkan pemahaman keagamaan berbasis kultur lokal dengan instrumen-instrumen budaya setempat seperti yang dilakukan Sunan Kalijaga tempo dulu,” ujar Rektor UIN Suka, Prof Drs KH Yudian Wahyudi MA PhD, pada wisuda program Diploma, Sarjana, dan Pascasarjana, di kampus setempat, Kamis (1/9).
Ia pun berpesan, alumni hendaknya selalu berpegang pada nilai-nilai kebenaran dan kebajikan universal. “Pemahaman agama yang penuh cinta, kedamaian, dan kearifan. Islam yang menjunjung toleransi, mengedepankan harmoni, dan berwatak moderat,” tandas Yudian.
Lulusan UIN Suka, imbuh Yudian, mestinya tidak akan terjebak pada doktrin-doktrin keagamaan sempit. Cara pandang yang dapat menjerumuskan pada sikap eksklusif, literalis, dan monolitik yang cenderung mengabsolutkan pandangannya sendiri.
“Model pemahaman keagamaan seperti itu rentan terjerumus ke dalam radikalisme, ekstremisme, bahkan terorisme,” tutur Yudian di hadapan 1.342 orang lulusan itu.
Sampai dengan wisuda tersebut, jumlah lulusan UIN Suka tercatat 51.873 orang, 508 orang di antaranya bergelar doktor dan 4.017 orang bergelar magister. “Mereka telah tersebar di seluruh pelosok tanah air. Bahkan ada yang berkarya di mancanegara dan menekuni berbagai macam profesi di pemerintahan, swasta, maupun lembaga swadaya masyarakat,” papar Yudian kemudian. (rul)
CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan