Pandangan Lokal Penting Bagi Pembangunan

 IMG_20161220_182606
JOGJA – Memahami pandangan dunia komunitas lokal sebagai manifestasi kesadaran historis dan budaya yang dibentuk melalui pengalaman kehidupan yang panjang dan dinamis, penting ketika hendak menerapkan strategi pembangunan dalam arti luas maupun fundamental.
“Model pembangunan oleh Orde Baru yang menekankan paradigma pertumbuhan ekonomi, stabilitas nasional, dan kekuasaan terpusat, telah membuktikan hanya menciptakan tirani negara dan eksploitasi sumberdaya alam yang destruktif,” ujar dosen Fakultas Teologi UKIM Ambon, Steve Gerardo Christoffel Gaspersz, saat mempertahankan disertasi guna meraih gelar Doktor di bidang Inter-religious Studies, di Sekolah Pascasarjana UGM, Selasa (20/12).
Dalam disertasi bertajuk ‘Menegosiasikan Identitas Keagamaan, Otoritas Kebudayaan dan Modernitas Di Leihitu, Pulau Ambon’, itu Steve pun menegaskan, model pembangunan Orde Baru sekaligus juga merendahkan kualitas eksistensi kehidupan manusia dan budaya masyarakat lokal.
Pada titik tersebut, Steve menawarkan suatu perspektif baru tentang strategi kebudayaan untuk pembangunan masyarakat dengan orientasi menemukan nilai-nilai intrinsik dari tradisi lokal sebagai fondasi untuk menyerap perubahan sosial yang sejalan dengan kearifan lokal, yang sebenarnya adalah modal sosial dan modal budaya mereka.
Disertasi yang ia susun pun merupakan upaya untuk memahami dinamika agama dan budaya dalam komunitas-komunitas lokal di Pulau Ambon. “Menggunakan kerangka kerja antropologi politik, analisis difokuskan pada tiga komunitas lokal, Rumahtiga untuk Kristen, serta Wakal dan Hitumesing untuk Muslim,” jelas Steve yang kemudian dinyatakan lulus dengan predikat ‘Sangat Memuaskan’ itu.
Tujuan penelitian disertasi, lanjut Steve, meneliti modal budaya ketiga komunitas tersebut yang dengannya mereka mengelola kehidupan sosial, dengan seluruh matra jamak identitas untuk menjaga keseimbangan relasional antara perbedaan-perbedaan, melalui negosiasi indentitas dalam konteks historis, politis, keagamaan, dan kebudayaan Maluku maupun Indonesia.
“Tentu, temuan penelitian ini merupakan model yang terbuka untuk diuji terus menerus dalam konteks sosiopolitik dan kebudayaan yang berubah. Penelitian-penelitian lanjutan harus bergerak maju untuk menemukan dan merekonstruksi model-model pembangunan yang berpihak pada masa depan dan kehidupan masyarakat ‘glokal’ Indonesia yang lebih baik,” ujar Steve menyarankan. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan