Pariwisata Andalkan Anak Muda

Rizky Handayani Mustafa

Rizky Handayani Mustafa

JOGJA – Anak-anak muda sekarang ini, generasi milenia, seringkali menemukan spot-spot indah di berbagai daerah di tanah air untuk berfoto ria. Tak jarang spot-spot tersebut kemudian berkembang menjadi destinasi wisata. Karenanya kementerian pariwisata pun mengandalkan anak-anak muda itu untuk memviralkan, mengembangkan berbagai destinasi wisata yang sangat menarik.

“Kami ajak mereka. Kami wadahi. Mereka, anak-anak muda itu kami sebut sebagai Genpi, Generasi Pesona Indonesia. Melalui mereka pengembangan destinasi wisata menjadi relatif lebih mudah,” ungkap Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata, Rizky Handayani Mustafa, di sela Munas Hildiktipari (Himpunan Lembaga Pendidikan Tinggi Pariwisata Indonesia), di kampus Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo) Jogjakarta, Sabtu (21/7).

Dengan mengajak anak-anak muda, hubungan antara pemerintah, industri dan masyarakat pun berjalan. Di antara ketiga pemangku kepentingan itu saling mengisi dan masing-masing bisa mengambil manfaatnya. “Di luar itu, kini tinggal mengajak satu pemangku kepentingan lagi yaitu perguruan tinggi. Untuk itu, kami sangat berharap pada kiprah Hildiktipari ke depannya,”papar Rizky kemudian.

Tren anak muda sekarang ini, lanjut Rizky, tak bisa lepas dari gawai. Melalui gawai itu pula mereka seringkali menemukan spot-spot keindahan alam maupun tempat-tempat tertentu dan memviralkannya. Tak heran jika kemudian, tak jarang, spot-spot tersebut berkembang menjadi destinasi wisata baru. “Antusiasme anak-anak muda itu yang kami tangkap dan kami namakan mereka, Genpi,” tuturnya.

Sayangnya, selama ini peran perguruan tinggi belum begitu menonjol sehingga seperti masih ada kaitan yang terputus. Karena itulah kemenpar sangat mengharapkan kiprah perguruan tinggi. “Mereka bisa memberikan aneka pelatihan kepada anak-anak muda itu. Pun, hasil-hasil riset perguruan tinggi pasti akan sangat berguna bagi pengembangan maupun pengambilan kebijakan di bidang pariwisata di masa mendatang,” tandas Rizky.

Ketua Hildiktipari, Suhendroyono mengakui, hubungan antara perguruan tinggi pariwisata dengan pemerintah khususnya kementerian pariwisata selama ini memang masih kurang harmonis. “Dalam beberapa hal, kementerian memang belum membuka diri sepenuhnya terhadap kampus-kampus karena mereka telah memiliki sekolah sendiri, STPN, Sekolah Tinggi Pariwisata Negeri,” ujanya.

Beberapa waktu lalu, sekolah vokasi juga masih dianggap atau disetarakan dengan pelatihan. “Baru sekitar sepuluh tahun terakhir ini saja perguruan tinggi mulai dilirik dan Kepariwisataan diakui sebagai ilmu pengetahuan. Menjadi Ilmu Pariwisata,” ungkap Suhendroyono yang dalam munas tersebut terpilih kembali menjadi ketua untuk periode kedua, 2018-2022.

Ajakan kemenpar untuk menjalin kerjasama lebih erat sangat disambut gembira. “Bagaimanapun yang memiliki peta jalan atau data lengkap mengenai perguruan tinggi pariwisata adalah Hildiktipari. Sudah semestinya kemenpar menggandeng kami,” tegas Suhendroyono, yang juga Ketua Stipram, itu seraya mengemukakan, saat ini Hildiktipari mencatat ada sekitar 194 perguruan tinggi pariwisata di seluruh Indonesia. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan