Pariwisata Cara Cepat Raup Devisa

Pariwisata: (kiri-kanan) Wamenkeu Mardyasmo, Menpar Arief Yahya, Gubernur BI Perry Warjiyo, Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan, Menhub Budi Karya Sumadi, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan hasil Rakorpusda, di Jogjakarta, Rabu (29/8).

Pariwisata: (kiri-kanan) Wamenkeu Mardyasmo, Menpar Arief Yahya, Gubernur BI Perry Warjiyo, Menko Kemaritiman Luhut B Panjaitan, Menhub Budi Karya Sumadi, dan Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso menjelaskan hasil Rakorpusda, di Jogjakarta, Rabu (29/8).

JOGJA – Pemerintah memilih menggenjot sektor pariwisata guna meraup sekaligus meningkatkan cadangan devisa. Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, Pemerintah Pusat, dan Pemerintah Daerah telah sepakat untuk mengeroyok akselerasi pembangunan terkait dengan sektor pariwisata itu. Pengembangan beberapa destinasi pariwisata pun menjadi prioritas utama.

“Pariwisata dipilih karena sektor itu yang paling gampang untuk dikembangkan. Pun, menjadi yang paling cepat untuk meraup devisa, sekaligus menyediakan lapangan kerja, dan menurunkan angka kemiskinan,” jelas Kemenko Kemaritiman, Luhut B Panjaitan, di sela Rakorpusda (Rapat Koordinasi Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan), di Jogjakarta, Rabu (29/8).

Luhut pun menyatakan optimis, pariwisata akan bisa secara cepat meningkatkan cadangan devisa. “Potensi pariwisata kita sangat besar. Tinggal pengelolaannya saja yang selama ini masih kurang. Saya optimis, asal semuanya dikerjakan secara sinergis. Satu team work, karena koordinasi semacam itulah yang menjadi kelemahan kita selama ini,” tandasnya.

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo mengemukakan, salah satu alasan dipilihnya pariwisata karena sektor itu cepat menghasilkan. Hanya saja untuk keberhasilannya harus ada sinergi antar-pihak, pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan Otoritas Jasa Keuangan. “Ada beberapa hal yang kemudian kami sepakati dari rakorpusda kali ini,” katanya.

Antara lain, pencapaian target jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 20 juta orang pada 2019. Dengan jumlah wisatawan mancanegara sebesar itu, diharapkan akan masuk dana sebesar 17,6 miliar dolar AS. Sebelumnya, hanya sekitar 14 miliar dolar AS. Dan pada 2024 mendatang, ditargetkan jumlah wisatawan mancanegara sebanyak 25 juta orang dengan dana yang masuk 28,8 miliar dolar AS.

Guna mencapai target tersebut, telah disepakati untuk mengembangkan secara lebih intensif beberapa destinasi wisata selain Bali. Antara lain, ada empat destinasi prioritas. Meliputi, Borobudur (Jateng-DIY), Danau Toba (Sumut), Mandalika (NTB), dan Labuan Bajo (NTT). Destinasi lain, Jakarta dan sekitarnya, Riau, Bromo, dan Banyuwangi.

Sebagaimana lazimnya pengembangan destinasi wisata, maka perlu digenjot pula aspek aksesibilitas, atraksi, dan amenitasnya. Didukung dengan promosi dan penguatan pelaku usahanya. “Pengembangan sejumlah bandara di masing-masing destinasi tersebut menjadi wajib hukumnya dalam rangka membuka aksesibilitas,” papar Perry.

Semua upaya itu tak akan berarti tanpa dukungan pembiayaan yang cukup. Untuk itu, OJK (Otoritas Jasa Keuangan) telah menyiapkan sejumlah skema pembiayaan. Salah satunya, KUR (Kredit Usaha Rakyat) Pariwisata untuk pengembangan UKM di sekitar destinasi tersebut. “Kami siap mendukung melalui berbagai pilihan skema pembiayaan untuk pengembangan pariwisata,” ujar Ketua Dewan Komisioner OJK, Wimboh Santoso.

Menteri Pariwisata Arief Yahya, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi, dan Wamenkeu Mardyasmo yang hadir pada kesempatan itu juga telah bertekad akan melakukan upaya maksimal guna keberhasilan pengembangan sektor pariwisata sebagai cara cepat, mudah, dan minim biaya untuk meraup devisa. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan