Pariwisata Masih Dipersepsikan Keliru

Wisuda: Untuk kali pertama Stipram mewisuda lulusan S2 Pariwisata, pada upcara wisuda, di kampus setempat, Kamis (5/7). Pun, menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang meluluskan magister ilmu murni pariwisata.

Wisuda: Untuk kali pertama Stipram mewisuda lulusan S2 Pariwisata, pada upcara wisuda, di kampus setempat, Kamis (5/7). Pun, menjadi perguruan tinggi pertama di Indonesia yang meluluskan magister ilmu murni pariwisata.

JOGJA – Pemerintah telah menetapkan pariwisata sebagai salah satu sumber pendapatan negara maupun devisa yang cukup penting. Tapi, hingga saat ini, masih saja muncul persepsi keliru mengenai pariwisata. Banyak pihak, termasuk kalangan birokrat dari pemerintah, yang menganggap pariwisata hanya urusan jalan-jalan. Ilmu pariwisata pun masih dikesampingkan dan belum banyak dipelajari.

“Kami ingin mengubah persepsi tersebut. Selain itu, kamilah satu-satunya perguruan tinggi saat ini yang telah membuka program studi Ilmu Pariwisata untuk jenjang S2. Dan kami kini telah mewisuda lulusan S2 Ilmu Pariwisata. Perguruan tinggi lain di Indonesia belum ada,” tutur Ketua Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo) Jogjakarta, Suhendroyono SH MM MPar CHE, di sela wisuda program D3, S1, dan S2, di kampus setempat, Kamis (5/7).

Kendati gembira telah mampu meluluskan magister di bidang Ilmu Pariwisata, namun Suhendroyono pun mengaku prihatin. “Kami sebagai satu-satunya perguruan tinggi di Indonesia, menjadi bukti selama ini ilmu murni pariwisata masih kurang dianggap,” tuturnya seraya mengemukakan, untuk wisuda kali ini Stipram meluluskan delapan orang S2 Ilmu Pariwisata.

Perguruan tinggi lain, lanjutnya, memang ada juga yang membuka S2 pariwisata tapi bukan sebagai ilmu murni tapi Kajian Pariwisata. Jadi berbeda. “Jika kajian seringkali hanya berhenti di karya ilmiah, namun ilmu pariwisata murni yang kami ajarkan lebih aplikatif. Bukan sekadar wacana atau hanya menjadi dokumen ilmiah semata, tapi benar-benar bisa diaplikasikan di dunia nyata atau industri pariwisata. Ada juga S2 pariwisata lainnya, tapi lebih menekankan pada manajamennya. Jadi lebih condong ke ilmu ekonomi,” papar Suhendroyono.

Agaknya pemerintah mulai menyadari kekeliruan persepsi tersebut sehingga meminta Stipram untuk meluluskan 200 orang S2 atau magister Ilmu Pariwisata hingga akhir tahun ini, karena memang kebutuhan magister pariwisata sangat dinantikan. “Kami bangga dengan permintaan itu, tapi terus terang tidak sanggup memenuhinya. Paling-paling kami hanya sanggup meluluskan lima puluh orang lulusan saja untuk tahun ini,” ujar Suhendroyono.

Dengan adanya program S2 Ilmu Pariwisata, Suhendroyono mengharapkan, akan ada perubahan pola pikir tentang pariwisata. “Bahwa pariwisata itu satu hal yang tak bisa dijalankan hanya berdasarkan pengalaman saja, tapi perlu ilmu yang mendukungnya. Dengan adanya lulusan dari Stipram ini kami mengharapkan sebagai bukti pariwisata itu ada ilmunya dan semoga makin membuka mata semua pihak sehingga bisa mengubah pola pikir tentang pariwisata,” tandasnya.

Pada kesempatan itu, Stipram mewisuda 1.008 orang lulusan, dengan rincian program D3 (Diploma) Perhotelan sebanyak 529 orang, S1 (Sarjana) Pariwisata 471 orang, dan S2 (Magister) Pariwisata sebanyak delapan orang. Wisuda kali ini yang mengambil tema Kesiapan Perguruan Tinggi Menghadapi Industri Global 4.0 dirasa sangat tepat karena sudah bukan rahasia lagi perkembangan teknologi dan industri di Indonesia sangat pesat.

“Tantangan era globalisasi sudah semakin menyatu dalam sendi kehidupan masyarakat. Era industri global 4.0 adalah bagian dari kolaborasi digital dan lini produksi industri. Pergerakan industri yang serba cepat membuat para pelaku bisnis ini harus siap dengan industri global 4.0. Revolusi Industri global begitu cepat sehingga peningkatan proses industri harus dilakukan secara efisien dan smooth,” ujar Suhendroyono di hadapan segenap wisudawan. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan