Pariwisata Mayoritas Tapi Minoritas

Mahasiswa Baru: Ketua Stipram Jogjakarta, Suhendroyono (paling kiri) pada acara penerimaan mahasiswa baru, di kampus setempat, Rabu (1/8).

Mahasiswa Baru: Ketua Stipram Jogjakarta, Suhendroyono (paling kiri) pada acara penerimaan mahasiswa baru, di kampus setempat, Rabu (1/8).

JOGJA – Pemerintah sudah menjadikan pariwisata sebagai andalan devisa, sehingga pariwisata menjadi mayoritas. Tapi bisa juga disebut minoritas karena tenaga atau sumberdaya manusianya masih sangat terbatas kualitas maupun kuantitasnya, meski pemerintah membutuhkan. Hanya saja, muncul optimisme karena jumlah pendaftar di sekolah tinggi pariwisata makin meningkat tahun ke tahun.

“Kami hanya mematok seribu dua ratus mahasiswa baru. Tapi ternyata harus menerima lebih dari seribu lima ratus mahasiswa baru. Jumlah pendaftar di tempat kami memang terus meningkat dari tahun ke tahun,” ungkap Ketua Stipram (Sekolah Tinggi Pariwisata Ambarrukmo) Jogjakarta, Suhendroyono, di sela acara penerimaan mahasiswa baru, di kampus setempat, Rabu (1/8).

Dari jumlah mahasiswa baru tersebut, lanjut Suhendroyono, jumlah pendaftar mencapai lebih dari 3.000 orang. “Tahun akademik kemarin, kami menerima seribu empat ratus mahasiswa baru. Tahun ini bertambah. Konsekuensinya kami harus menambah jumlah dosen. Sedangkan untuk sarana prasarana penunjang perkuliahan, sudah tidak ada masalah. Semuanya sudah kami siapkan,” tandasnya.

Suhendroyono pun optimis perkembangan pariwisata di Indonesia cukup maju dan diakui dunia internasional. “Terbukti ada enam mahasiswa baru yang berasal dari Sarawak dan Thailand. Mereka mendaftar dan ingin kuliah di Stipram atas inisiatif sendiri, sehingga membuktikan perguruan tinggi pariwisata di Indonesia juga telah diakui,” ujarnya bangga.

Terlebih ketika ditanya alasan kuliah ke Indonesia, empat orang asal Sarawak dan dua orang asal Thailand itu menyatakan, karena melihat kurikulum yang ada di Stipram sudah sesuai dengan standard MARA. Semacam lembaga standarisasi yang diakui di kawasan Asean. “Mereka juga beralasan karena potensi pengembangan pariwisata di Indonesia masih sangat terbuka lebar,” papar Suhendroyono.

Jumlah pendaftar yang terus bertambah dari tahun ke tahun, imbuh Suhendroyono, pun menunjukkan minat ke perguruan tinggi pariwisata masih tinggi sekali. “Agaknya mereka sudah menyadari pariwisata akan menjadi andalan ekonomi dunia di masa mendatang,” katanya seraya menyatakan, mereka juga telah memanfaatkan teknologi informasi secara maksimal karena jumlah pendaftar melalui online lebih banyak ketimbang pendaftar konvensional.

Kepada segenap mahasiswa baru, Suhendroyono pun berpesan, agar jangan berpikir spesialisasi dahulu. “Dalam perkuliahan nanti mahasiswa akan memperoleh semua mata kuliah, sesuai Jurusan yang ada. Jangan mematok ingin menjadi ahli kuliner, misalnya. Semuanya harus dipelajari. Siapa tahu lebih berbakat menjadi dosen,” tutur Suhendroyono kemudian. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan