Pascasarjana UGM Tak Tolerir Plagiasi

Dies Ke-35: Segenap pengelola dan seluruh karyawan Sekolah Pascasarjana UGM usai mengikuti dimulainya open house menandai rangkaian acara memperingati dies natalis ke-35 kampus tersebut, di kampus setempat, Selasa (24/4).

Dies Ke-35: Segenap pengelola dan seluruh karyawan Sekolah Pascasarjana UGM usai mengikuti dimulainya open house menandai rangkaian acara memperingati dies natalis ke-35 kampus tersebut, di kampus setempat, Selasa (24/4).

JOGJA – Sekolah Pascasarjana UGM sebagai salah satu tulang punggung universitas tertua di Indonesia itu diharapkan terus memupuk semangat agar terus mampu mengembangkan diri dan bermanfaat bagi banyak pihak. Salah satu hal yang terus diupayakan pengembangannya, akreditasi bagi program studi. Hal utama dan syarat utama akreditasi, tidak boleh ada plagiasi.

“Jika sampai terjadi plagiasi, pinaltinya sangat berat. Karena itu kami tidak menolerir adanya plagiasi. Sebisa mungkin dihindari,” ujar Dekan Sekolah Pascasarjana UGM, Prof Dr Siti Malkhamah MSc PhD, di sela acara open house menandai dimulainya rangkaian acara dies natalis ke-35 Sekolah Pascasarjana UGM, di kampus setempat, Jogjakarta, Selasa (24/4).

Sebesar 70 persen program studi S2 dan S3 Sekolah Pascasarjana UGM telah mendapat akreditasi A sekarang ini. Pada 2017, program studi Pengkajian Seni Pertunjukan dan Seni Rupa mendapatkan nilai A. Sedangkan lima program studi lain dalam proses menyusul. Masing-masing program studi S2 Pariwisata, S2 MMB (Magister Manajemen Bencana), S2 MMPT (Magister Manajemen Pendidikan Tinggi), S2 Bioetika, serta S3 ALB (Agama dan Lintas Budaya).

“Mudah-mudahan semua dapat berjalan lancar, karena untuk akreditasi kali ini berbeda. Nomor satu dan syarat utama, tidak boleh ada plagiasi. Meski untuk mengatasi persoalan plagiasi tidak mudah. Hal penting yang harus dilakukan, sering-sering melakukan cek karena jika sampai terjadi maka pinaltinya sangat berat,” kata Malkhamah.

Konsekuensinya, jelas Malkhamah kemudian, dalam satu tahun tidak akan terakreditasi. “Jika itu terjadi tentu akan menjadi pukulan berat bagi institusi pendidikan. Karenanya dalam menulis karya ilmiah perlu melihat panduan BAN PT dan sebisa mungkin gunakan kalimat atau kata-kata sendiri,” tegasnya.

Siti Malkamah merasa bersyukur karena Sekolah Pascasarjana UGM yang memiliki dosen dari berbagai fakultas terus giat melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat. Sepanjang 2017 terdapat 45 kegiatan penelitian dengan total biaya Rp 3,5 miliar. Jumlah publikasi pada 2017 mencapai 159. Sebanyak 35 publikasi di antaranya merupakan publikasi internasional dan 124 publikasi nasional.

Selain kegiatan-kegiatan tersebut, Sekolah Pascasarjana UGM juga terus melakukan kerjasama dengan institusi nasional maupun internasional. Jumlah mahasiswa baru tahun akademik 2017/2018 sebanyak 432 orang dan terus berusaha agar jumlah mahasiswanya lebih banyak lagi.

Setelah pembukaan dan open house yang akan digelar hingga Jumat (27/4), berbagai kegiatan mewarnai dies ke-35 itu. Antara lain, Family Gathering, Lomba Internal, Lomba Eksternal, Lomba Olahraga, The 10ᵗʰ IGSSCI, dan orasi ilmiah. “Open house digelar untuk memperkenalkan sejumlah program studi Sekolah Pascasarjana UGM kepada masyarakat,” jelas ketua dies ke-35, Dr Ir Dina Ruslanjari. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan