Pawai Ogoh-ogoh Malioboro Tutup

IMG_20170325_215930
Dari kiri,  Koordinator Pawai Budaya Ogoh-ogoh I Nyoman Satiawan, Kepala Humas Kota Jogja Tri Hastono, dan Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Jogjakarta I Wayan Ordiyogi.
JOGJA – Memperingati Hari Raya Nyepi, umat Hindu di Jogjakarta menggelar pawai ogoh-ogoh, Sabtu (25/3). Selama pawai, ruas jalan Malioboro hingga Titik Nol akan ditutup total mulai pukul 14.00 sampai dengan pukul 17.30 WIB. Bertemakan ‘Harmoni dalam Kebhinnekaan’, pawai tahun ini melibatkan sejumlah asrama ikatan pelajar dan mahasiswa dari berbagai daerah.
“Tak kurang dari empat puluh enam kelompok dengan melibatkan sedikitnya seribu lima ratus hingga dua ribu orang akan memeriahkan pawai ogoh-ogoh tahun ini,” ungkap Koordinator Pawai Budaya Ogoh-ogoh, I Nyoman Satiawan, kepada wartawan, di Balaikota Jogjakarta, Kamis (23/3).
Secara lebih rinci pawai budaya tahun ini antara lain melibatkan 13 IKPM (Ikatan Keluarga Pelajar dan Mahasiswa), enam kelompok lintas agama, dan 25 komunitas budaya ogoh-ogoh. “Ada delapan ogoh-ogoh yang akan diusung, ditambah 14 ogoh-ogoh dari Sleman,” jelas Nyoman kemudian.
Tidak ada ogoh-ogoh maskot dalam pawai tersebut, tetapi ada lima ogoh-ogoh utama masing-masing berwarna putih, hitam, merah, kuning, dan pancawarna. “Ogoh-ogoh utama itu menggambarkan ‘sedulur papat lima pancer’, serta keberagaman yang kemudian bersatu dalam ogoh-ogoh pancawarna,” tutur Nyoman kemudian.
Pawai ogoh-ogoh dalam perayaan Hari Raya Nyepi, awalnya berlangsung di jalan raya Negara hingga Denpasar di Bali pada 1982. “Semula hanya untuk kepentingan pariwisata, tapi kemudian pada 1984 berkembang pawai di kampung-kampung di Bali, dan selanjutnya saat ini ada juga di beberapa daerah seperti Jogja, Semarang, Magelang,” imbuh Sekretaris Parisadha Hindu Dharma Jogjakarta, I Wayan Ordiyogi.
Secara arti kata, ogoh-ogoh dari bahasa Bali itu berarti ‘goyang-goyang. Jadi patung raksasa yang diusung pada pawai pasti bisa bergoyag-goyang. “Secara filosofis, menggambarkan keangkaramurkaan, kekuatan negatif, dan kejahatan di dalam kehidupan ini yang kemudian harus dibersihkan,” papar Wayan.
Sebagai ritual keagamaan, ogoh-ogoh yang dimaknakan sebagai pembersihan buwana ageng atau dunia fana dan buwana alit atau diri manusia, akan diarak di sekitar pura pada malam sebelum acara puncak Tawur Kesanga. “Di Jogja akan dilakukan di pura  Jagatnata di Banguntapan Bantul, pura Pakubuwana di Baciro Jogjakarta, dan pura Widya Dharma di Maguwoharjo Sleman,” ujar Wayan.
Selain itu, akan diarak pula pagi sebelum upacara Tawur Kesanga di candi Prambanan, dengan mengelilingi setengan kompleks candi tersebut. “Arak-arakan akan dimulai pukul tujuh pagi dan rencananya upacara Tawur Kesanga di Prambanan akan dihadiri oleh Menteri Agama mewakili Presiden Jokowi,” jelas Wayan kemudian. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan