Pelaku Usaha Mebel-Kerajinan Belum Lirik Pasar Lokal

Jiffina: Perhelatan Jiffina III tahun ini dipastikan masih akan didominasi dengan produk-produk dengan bahan baku utama kayu recycle. Tampak dalam gambar salah satu stan peserta Jiffina tahun lalu.

Jiffina: Perhelatan Jiffina III tahun ini dipastikan masih akan didominasi dengan produk-produk dengan bahan baku utama kayu recycle. Tampak dalam gambar salah satu stan peserta Jiffina tahun lalu.

JOGJA – Para pelaku usaha di bidang mebel dan kerajinan selama ini terlalu fokus pada pasar luar negeri. Mereka belum atau kurang melirik pasar lokal atau dalam negeri. Padahal, potensi pasar dalam negeri sebenarnya tidak kalah menarik jika dibandingkan pasar luar negeri. Jumlah penduduk Indonesia yang begitu besar, merupakan pasar yang menggiurkan jika digarap serius.

“Sayangnya, teman-teman pengusaha mebel dan kerajinan saat ini belum serius menggarap pasar lokal. Mereka masih mendahulukan ekspor. Perlu perubahan cara pikir, memang. Meski kelihatannya eceran, tapi jika mengingat jumlah penduduk kita yang besar, jatuhnya akan besar juga. Apalagi jika mampu menggaet para pengembang, perhotelan, apartemen, dan lain-lain, nilainya pasti tak akan beda jauh jika dibandingkan dengan ekspor,” ungkap salah seorang pengusaha mebel dan kerajinan, Hendro Wardoyo, di Jogjakarta, Selasa (27/2).

Karena itu, Hendro mengajak teman-teman pengusaha agar tidak hanya memikirkan atau terlalu fokus dengan eskpor tapi memperkuat pasar dalam negeri juga. “Tidak mudah, memang, mengubah kebiasaan. Tapi melirik pasar lokal harus dilakukan segera. Pasar dalam negeri harus digarap serius. Jiffina yang tahun ini merupakan perhelatan ketiga pun patut dilirik guna meningkatkan penjualan di dalam negeri,” katanya.

Hendro, yang juga Ketua OC (Organizing Committee) Jiffina (Jogja International Furniture & Craft Fair Indonesia) III tahun ini, pun mengemukakan, perhelatan pameran mebel dan kerajinan itu tahun ini lebih mantap. “Meningkatnya jumlah buyers luar negeri yang telah menyatakan bersedia akan hadir, merupakan salah satu bukti Jiffina telah mulai diperhitungkan,” tegasnya.

Dari segi kepesertaan, lanjut Hendro, Jiffina tahun ini juga mengalami peningkatan. Tiga hall di JEC (Jogja Expo Center) sebagai tempat digelarnya Jiffina 2018, 10-13 Maret 2018, sudah terpenuhi. Tak kurang dari 305 peserta akan mengikuti pameran. Mereka berasal dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, Jakarta, dan DIJ sendiri.

Jumlah buyers maupun visitors juga mengalami peningkatan. Tak kurang dari 925 buyers maupun visitors sudah memastikan akan mendatangi Jiffina 2018. Dari total jumlah tersebut, sebanyak 425 merupakan buyers dan visitors asal luar negeri. Mereka berasal dari 36 negara, seperti Afrika Selatan, Timur Tengah, Eropa, maupun Amerika. Panitia menargetkan 1.500 buyers dan visitors luar negeri akan hadir selama pameran tersebut.

Dari segi produk yang akan dipamerkan, menurut Hendro, masih akan didominasi oleh produk-produk furnitur dengan bahan baku utama kayu recycle. Sedangkan untuk kerajinan akan muncul desain-desain baru. “Sentuhan manusia, tak melulu bikinan pabrik, atau craftmanship pada produk kerajinan akan menjadi keunggulan kita,” tandasnya.

Panitia tahun ini juga sangat mengapresiasi keseriusan para peserta. Buktinya, 80 persen peserta akan mendesain sendiri tempat pameran mereka. “Kami juga akan menyediakan pojok HAKI selama pameran berlangsung. Ini saya kira satu-satunya pameran yang menyediakan fasilitas HAKI. Kami gelar pula gathering night pada 12 Maret 2018 yang akan mempertemukan secara lebih intensif antara peserta dengan buyers. Ada pula factory visit yang juga merupakan satu-satunya yang ada di dalam satu pameran,” tutur Hendro kemudian.

Sebagai salah satu bukti Jiffina tahun ini mulai diperhitungkan, dengan kesediaan para pemodal asing alias perusahaan asing untuk menjadi peserta. “Kepesertaan asing merupakan hal baru. Sekaligus menjadi bukti nyata, Jiffina mulai dilirik dan diperhitungkan sebagai ajang pameran yang cukup bergengsi,” tandas Hendro seraya menyebut, target transaksi Jiffina tahun ini diharapkan mencapai 98-100 juta dolar AS. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan