Pelukis Bukan Profesi Main-Main

Pelukis: salah seorang siswa SMA Budi Utama Jogjakarta antusias menggoreskan kuas di atas kanvas, pada program pengembangan diri, dipandu pelukis Operasi Rachmad.

Pelukis: salah seorang siswa SMA Budi Utama Jogjakarta antusias menggoreskan kuas di atas kanvas, pada program pengembangan diri, dipandu pelukis Operasi Rachmad.

JOGJA – Seniman, termasuk di dalamnya pelukis, masih sering dianggap remeh oleh masyarakat. Padahal seniman, pelukis, merupakan profesi serius. Bukan profesi main-main. Untuk menambah wawasan siswanya, SMA Budi Utama Jogjakarta mengundang pelukis Operasi Rachmad, yang kemudian menjelaskan seluk-beluk menjadi seniman, menjadi seorang pelukis.

“Ini memang program pengembangan diri yang wajib diikuti siswa klas X dan XI, dengan mendatangkan figur dari berbagai latarbelakang profesi. Kebetulan, kali ini yang diundang seorang pelukis,” ungkap Kepala Sekolah SMA Budi Utama Jogjakarta, Frengky SSi MA, sesaat sebelum Operasi bertemu dengan para siswa, di sekolah setempat, Jumat (23/2).

Dengan mengetahui berbagai macam profesi, lanjut Frengky, siswa akan lebih mengenal dunia nyata. “Ada berbagai macam profesi yang bisa dipilih. Tak hanya profesi konvensional, seperti dokter, insinyur, dan seterusnya. Di dunia ini ada juga profesi seperti pelukis, yang boleh dibilang bukan profesi biasa di mata masyarakat,” katanya.

Selain pelukis, seperti Operasi, program pengembangan diri yag sudah dimulai sejak 2015 itu telah mengundang pula sosok-sosok lain, seperti jaksa, public relation, artis, pengusaha, bahkan seorang karyawan sekalipun. “Dengan begitu wawasan para siswa akan lebih terbuka sehingga saat klas XII, begitu lulus, tak lagi bingung ketika harus memilih jurusan untuk kuliah, atau saat hendak memasuki dunia kerja,” tandas Frengky.

Operasi yang merupakan lulusan ISI (Institut Seni Indonesia) Jogjakarta angkatan 1988 itu banyak mengungkapkan tentang betapa serius, disiplin, dan butuh kecerdasan untuk menjadi pelukis profesional. “Dunia seniman, pelukis, memang seperti dunia main-main. Tapi sejatinya memerlukan analisa yang mendalam pula. Itu yang kali pertama akan saya kenalkan kepada para siswa,” katanya.

Siapa pun sebenarnya bisa menjadi seorang pelukis. Pengaruh bakat hanya satu persen. Selebihnya disiplin, kerja keras, etika yang baik, proses penciptaan, dan lain-lain yang tak bisa dianggap tidak serius. “Memang ada teori main-main dalam penciptaan karya. Tapi harus diingat pula, di sisi lain ada pula teori analisa yang harus melekat pada diri seorang pelukis,” jelas Operasi.

Sayangnya, ujarnya kemudian, dunia main-main sekarang ini seperti hilang dari keseharian anak-anak. Mereka terlalu sibuk dengan gawai. “Unsur main-main itulah yang akan saya bangkitkan kembali dari dalam diri anak-anak, para siswa SMA Budi Utama ini. Karena dianggap main-main, seringkali dunia itu tidak dianggap sebagai pelajaran. Padahal, itu sangat penting untuk dipelajari,” papar Operasi lebih jauh.

Kepada para siswa, Operasi mengatakan, siapapun bisa menjadi seniman. Tapi, untuk menjadi seniman perlu keberanian. Terutama karena profesi seniman masih sering dianggap sebelah mata oleh masyarakat. “Jangan takut melangkah. Kenali ilmunya. Kembangkan sikap disiplin, kreatif, ikhlas, dan jujur. Satu saja di antara sikap-sikap itu kalian hilangkan, maka akan rusaklah profesi yang kalian tekuni,” pesannya kemudian.

Puluhan siswa yang mengikuti kelas pengembangan diri itu pun sangat antusias ketika Operasi meminta beberapa di antara mereka maju ke depan untuk menggoreskan warna dari cat minyak di atas kanvas yang disediakan. Pelukis asal Jawa Timur yang kini mukim di Jogja itu pun membiarkan para siswa yang sepertinya main-main ketika menggoreskan kuas mereka. Membebaskan para siswa untuk mengekspresikan diri mereka masing-masing. Para siswa yang semula tampak malu-malu, tak lama kemudian secara bersama-sama bersukacita menggoreskan warna di atas kanvas. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan