Pembangunan Manusia Indonesia Di Bawah Rata-Rata

 IMG_20170520_203156
 Rektor UNY Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd memindahkan kuncir toga pada salah seorang wisudawan, pada upacara wisuda di kampus setempat, Sabtu (20/5).
JOGJA – Data UNDP (United Nations Development Programme) yang mengukur kesuksesan pembangunan dan kesejahteraan suatu negara menyebutkan, dari 187 negara di dunia diperoleh nilai rata-rata IPM (Indeks Pembangunan Manusia) sebesar 0,702. Nilai Indonesia hanya 0,684 berada pada peringkat 108 dunia.
“Dengan demikian, IPM Indonesia masih di bawah rata-rata dunia. Bahkan di bawah empat negara Asean, Singapura, Brunei, Malaysia, dan Thailand,” ungkap Rektor UNY (Universitas Negeri Yogyakarta), Prof Dr Sutrisna Wibawa MPd, pada wisuda kampus setempat, di GOR UNY, Sabtu (20/5).
Mengutip data dan proyeksi suatu lembaga pada 2012, Sutrisna mengemukakan, Indonesia menempati posisi ke-16 sebagai negara dengan ekonomi terbesar. Pada 2030 akan termasuk ke dalam jajaran tujuh negara dengan ekonomi terbesar, seiring dengan peningkatan jumlah kelas menengah baru dengan laju mencapai 300.000 jiwa per tahun.
“Prasyarat bagi terpenuhinya proyeksi positif, itu jika kita bisa meningkatkan tenaga kerja terampil, berkualitas, dan profesional untuk bersaing di tingkat global,” tandas Sutrisna di hadapan 983 orang wisudawan.
Tantangan pada para wisudawan, imbuhnya, jangan berorientasi kepada job seeker atau pencari kerja, tetapi harus sebagai job creator atau pencipta lapangan kerja dan berjiwa kewirausahaan. “Para wisudawan harus memiliki kreativitas dan daya juang tinggi dengan mengutamakan orientasi kecepatan menciptakan lapangan pekerjaan, daripada kesiapan mendapatkan lapangan pekerjaan,” tutur Sutrisna.
Sebanyak 983 orang wisudawan, rinciannya 10 orang program Doktoral (S3), 152 orang program Magister Pendidikan (S2), 637 orang S1-Kependidikan, 159 orang S1 Non-Kependidikan, dan 25 orang Diploma-3 Non-Kependidikan.
Sebanyak 349 orang berhasil lulus dengan predikat cum laude. Nilai IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) tertinggi 3,90 untuk S3 diraih Dr Umi Rochayati dari prodi Pendidikan Teknologi dan Kejuruan. Untuk S2, Dika Agustina Indrati MPd dengan IPK 4,00, dari program Magister Pendidikan Biologi. Untuk jenjang S1, Nita Lestari SPd dengan IPK 3,89 dari prodi Pendidikan Akuntansi. Jenjang D3, Badriatus Soleha AMd Pas dengan IPK 3,86 dari prodi Pemasaran.
Dika selaku wakil wisudawan mengatakan, IPK bukan segalanya karena dalam realita kehidupan khususnya dunia kerja perlu juga keahlian, kompetensi, kecerdasan, keuletan dan keterampilan, softskill maupun hardskill. “Kita jangan puas hanya dengan memperoleh gelar. Kita hadir di tengah masyarakat juga untuk mengabdi dan menjadi problem solver atas tantangan global saat ini,” ujarnya. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan