Pembelajaran Jarak Jauh Tak Terhindarkan

Sutrisna Wibawa (kiri) dan Ojat Darojat

Sutrisna Wibawa (kiri) dan Ojat Darojat

JOGJA – Banyak mitos menyatakan, pendidikan jarak jauh dipersepsikan sebagai second rate education. Sebagai negara berkembang, banyak mahasiswa Indonesia yang belum biasa belajar mandiri. Kegiatan pembelajaran jarak jauh pun belum membudaya. Namun UT (Universitas Terbuka) mendapat dukungan pemerintah untuk menyelenggarakannya.

Seiring revolusi industri 4.0, UT berperan dalam meningkatkan APK (Angka Partisipasi Kasar) Perguruan Tinggi yang sekarang 31,5 persen menjadi 40 persen pada 2022. Caranya dengan memasifkan pendidikan jarak jauh terutama pembelajaran dalam jaringan. UT pun ditugasi berbagi informasi serta pengalaman dengan PTN-PTS agar mereka suatu saat memiliki kapasitas yang sama dengan UT dalam pembelajaran jarak jauh.

Rektor UT, Prof Ojat Darojat mengemukakan hal itu, dalam sosialisasi pembelajaran daring, di kampus UNY, Karangmalang, Jogjakarta, Senin (20/8). “Interaksi akademik di ruang kuliah sudah tidak memadai. Tren semula, pembelajaran tatap muka. Lalu bergeser pada gabungan antara tatap muka dan virtual. Akhirnya berujung pada pembelajaran virtual,” katanya.

Kondisi itu berimbas pada meningkatnya angka partisipasi, peningkatan intensitas, dan kualitas interaksi secara lebih terbuka serta leluasa, pun peningkatan keterlibatan mahasiswa dalam proses pembelajaran. “Dalam pembelajaran jarak jauh, kualitas tetap harus diutamakan. Oleh karena itu, hal yang terkait dengan penyiapan dosen, infrastruktur, harus disiapkan secara baik,” tutur Ojat kemudian.

Masalah utama dalam sistem pembelajaran online, lanjut Ojat, penyiapan acces point serta literasi komputer dan internet yang harus ditingkatkan. “Untuk itu pembelajaran online juga harus melihat realitas di lapangan,” tegasnya pada acara yang dihadiri oleh seluruh dosen dan tenaga kependidikan UNY itu dengan tujuan mempersiapkan UNY memasuki era pembelajaran jarak jauh.

Rektor UNY Prof Sutrisna Wibawa mengemukakan, UNY akan merintis mata kuliah online dengan sistem gabungan antara tatap muka dan online pada mata kuliah bukan praktik. “Dengan blended learning, kuliah menjadi efisien sehingga tidak banyak ruang kuliah melainkan ruang praktik,” tandasnya pada acara yang didahului dengan penandatanganan nota kesepahaman antara UNY dengan UT tersebut.

Dengan diberikannya izin pada perguruan tinggi asing untuk membuka perkuliahan di Indonesia, dipastikan mereka akan menggunakan sistem online. Oleh karena itu perguruan tinggi dalam negeri juga harus siap mengantisipasinya. “Harapannya, dengan e-learning akan meningkatkan kualitas pendidikan,” papar Sutrisna lebih jauh. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan