Pembelajaran Kearsipan Ketinggalan Zaman

Dr Sutirman MPd

Dr Sutirman MPd

JOGJA – Banyak orang menganggap arsip sebagai sesuatu yang tidak penting, bahkan dianggap sampah. Padahal, mengelola arsip berarti mengelola informasi. Berkaitan dengan revolusi industri 4.0 pun kearsipan harus menyesuaikan. Pengelolaan arsip pada era sekarang ini harus sesuai dengan tuntutan revolusi industri 4.0. Harus berbasis teknologi digital.

“Hanya saja, pembelajaran kearsipan di SMK dan di perguruan tinggi selama ini masih lebih banyak mempelajari pengelolaan arsip secara manual dalam bentuk arsip dan media penyimpanan fisik. Porsi materi pengelolaan arsip digital masih sedikit,” ujar pakar pendidikan Dr Sutirman MPd, saat menyampaikan orasi ilmiah pada dies natalis ke-7 Fakultas Ekonomi UNY, di kampus setempat, Kamis (28/6).

Ia pun mencontohkan, pada kurikulum SMK OTKP (Otomatisasi Tata Kelola Perkantoran) yang sebelumnya dikenal dengan Administrasi Perkantoran terdapat mata pelajaran Kearsipan, terdiri dari 20 kompetensi dasar. “Namun, hanya satu kompetensi dasar yang membahas materi kearsipan digital,” tutur Sutirman kemudian.

Penelitian yang ia lakukan pada 2016 pun menunjukkan, sebagian besar guru SMK OTKP atau Administrasi Perkantoran belum menguasai materi kearsipan digital sehingga mereka mengalami kesulitan ketika harus mengajarkan kepada para peserta didiknya. “Model blended learning yang memadukan pembelajaran online berbasis web atau e-learning dan pembelajaran face to face di kelas atau di laboratorium tepat untuk membantu mengatasi masalah pembelajaran kearsipan pada era digital sekarang ini,” papar Sutirman.

Implementasi di SMK dan perkuliahan, menurut Sutirman, pun membuktikan model blended learning berbasis experiential learning untuk pembelajaran kearsipan digital efektif meningkatkan pengetahuan peserta didik tentang pengelolaan kearsipan digital. Meningkatkan keterampilan peserta didik dalam melakukan praktik kearsipan digital, dan meningkatkan sikap kemandirian, disiplin, serta tanggungjawab peserta didik dalam melakukan pembelajaran kearsipan digital.

Dekan FE UNY, Dr Sugiharsono MSi mengemukakan, dies natalis ke-7 FE UNY tahun ini mengambil tema Membangun Keunggulan Pendidikan Ekonomi dan Bisnis Di Era Digital. “Melalui tema itu kami ingin menjadi tonggak perjuangan untuk mendukung visi misi UNY menuju world class university yang berkarakter dan menjadikan fakultas yang bermartabat di era digital ini,” jelasnya.

Selama tahun akademik 2017/2018 per Mei 2018, FE UNY telah menghasilkan lulusan dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) rata-rata untuk lulusan S1 menunjukkan kenaikan meski hanya 0,03. Pun, untuk D3 meski hanya 0,01. Sementara dilihat dari masa studi, untuk S1 lebih singkat meski penurunannya hanya 0,05. Sedangkan untuk D3 mengalami keajegan. Jumlah mahasiswa cumlaude ada 259 orang, atau 43,17 persen dari 600 orang lulusan. (rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan