Pemberitaan Radikalisme Berlebihan Ciptakan Kepanikan

JOGJA (jurnaljogja) – Ketua Dewan Pers Yosep Stanley Adi Prasetyo mengingatkan agar wartawan berhati-hati dalam menyajikan berita kasus terorisme ke publik. Karena bila dalam pemberitaan terlalu berlebihan, justru tidak memberikan informasi. Sebaliknya, malah akan menciptakan kepanikan di tengah masyarakat.

“Bila tidak hati-hati dan cermat memberitakan kasus terorisme, maka media massa bisa dituding ikut menyebarkan teror ke masyarakat. Untuk itu, wartawan harus hati-hati dalam menyajikan berita,” katanya pada acara ‘Diseminasi Pedoman Peliputan Terorisme dan Peningkatan Profesionalisme Media Massa dalam Meliput Isu Terorisme di Kantor PWI Cabang Jogjakarta Kamis (24/3). Acara diikuti 62 peserta berbagai media elektronik maupun cetak.
Menurut dia, bila tidak hati-hati dalam penulisan berita terorisme, justru akan menjadi teror pada masyarakat. “Hal ini yang dikehandaki para terorisme. Untuk itu, wartawan harus hati-hati dalam memberitakan kasus terorisme,” jelasnya.
Yosep mencontohkan kasus pemboman di Kawasan Thamrin dan Sarinah, Jakarta, beberapa waktu lalu. Saa itu, media massa dinilai saling berlomba menyajikan kecepatan, namun mengabaikan akurasi berita. Akhirnya yang terjadi, sejumlah media tanpa melakukan verifikasi, dan setelah ditelusuri ternyata itu kabar ‘hoax’. ”Ini sebuah kesalahan. Karenanya wartawan yang di lapangan harus hati-hati dan jangan grusa-grusu,” pintanya.
Diharapkan, wartawan dapat lebih cerdas dalam menyajikan fakta-fakta hasil liputan di lapangan. Narasumber yang dipilih pun juga harus merupakan pihak-pihak yang berkompeten untuk memberikan pernyataan, selain tidak melibatkan opini pribadi dalam pemberitaan.
Sementara Ketua PWI Cabang Jogjakarta Sihono HT minta, sebagai penyampai informasi, wartawan harus membuat karya jurnalistik yang menolak paham penyebar kebencian. Seorang pembuat karya jurnalistik harus berkesadaran, berpengetahuan dan berketerampilan tinggi di bidang kewartawanan. ”Kesadaran ini terkait dengan pemahaman dan ketaatan pada kode etik jurnalistik, tunduk pada undang-undang dan pedoman jurnalistik,” katanya.
Wartawan, menurut dia, harus profesional dalam menyajikan berita. Sebab banyak pemberitaan yang melenceng dari kaidah dan kode etik jurnalis. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan