Pemerintah Abai Pada Kekerasan Seksual anak

 IMG_20161226_205931
 Anggoro Rulianto/Jurnal Jogja
(Dari kiri) Jecelyn, Mustikasari, Tsanitus Solihah, Shoim Sahriyati, Nining Sholikhah, dan th Bambang Pamungkas.
JOGJA – Sejumlah LSM yang bergerak pada eksploitasi maupun kekerasan seksual pada anak menilai, pemerintah masih abai terhadap fenomena tersebut yang semakin hari semakin mengkhawatirkan. Sejumlah penggerak pada LSM tersebut juga menegaskan, media sosial menjadi pintu gerbang bagi terjadinya kekerasan seksual anak akhir-akhir ini.
“Tidak tersedianya data akurat mengenai kekerasan seksual anak pada lembaga maupun instansi terkait, menjadi salah satu bukti kekuarang-pedulian pemerintah. Fakta itu kami temui di beberapa daerah,” ungkap Th Bambang Pamungkas, mewakili tim peneliti dari beberapa LSM yang peduli terhadap eksploitasi dan kekerasan seksual anak, kepada wartawan, di Jogjakarta, Sabtu (24/12).
Selain pemerintah maupun lembaga lain yang harus menangani secara serius, lanjut Bambang, literasi media terutama media sosial menjadi sangat penting agar tak semakin banyak anak-anak yang terjerumus ke dalam eksploitasi dan kekerasan seksual.
Perlu menjadi perhatian serius pula karena rumah yang mestinya nyaman dan aman bagi anak, justru seringkali dari sanalah persoalan terjadi. “Fenomena eksploitasi dan kekerasan seksual pada anak ini bukan lagi isu tetapi fakta. Perlu ada gerakan sosial untuk menanggulanginya. Jangan hanya menjadi pembicaraan di tingkat akademis,” tegas Bambang.
Anggota tim peneliti lainnya, Nining Sholikhah mengemukakan, terbukti media sosial menjadi salah satu faktor bahkan pintu gerbang bagi terjadinya eksploitasi dan kekerasan seksual anak. “Bersama-sama kita sudah harus memikirkan tindaklanjut untuk pencegahannya. Tak sekadar menutup situs-situs porno yang ada,” katanya.
Pemerintah, saran Nining, harus menciptakan program-program yang memungkinkan eksploitasi dan kekerasan seksual anak tidak terjadi. “Menutup situs porno memang sudah dilakukan, tetapi belum secara masif terhadap media-media online yang berisikan unsur-unsur pornografi. Pendidikan keluarga juga sangat penting karena sumber segala persoalan, tak jarang dari keluarga,” ujarnya.
Shoim Sahriyati dari Yayasan Kakak (Kepedulian untuk Anak Surakarta) juga mengakui pentingnya faktor keluarga. “Dari sejumlah anak yang menjadi dampingan kami, hampir semuanya tak menyebutkan figur ayah maupun ibu ketika ditanya tentang orang-orang yang penting di dalam kehidupan mereka,” paparnya.
Yayasan Kakak pada 2016 mendampingi dan menjangkau 37 anak korban kejahatan seksual. “Dari para dampingan tersebut, separonya merupakan korban kejahatan eksploitasi seksual online, khususnya melalui FB disambung komunikasi intens lewat BBM,” tutur Shoim, ditegaskan oleh Mustikasari dari Pendidik Sebaya Heybro (Healthy Young Browser) dan Jecelyn dari Komunitas 18+.
Hal senada dikemukakan pula oleh Suranto dari Yayasan Samin (Sekretariat Anak Merdeka Indonesia) yang pada Maret – Desember 2016 melakukan gerakan sekaligus penelitian guna melawan eksploitasi seksual online anak, perjalanan dan wisata seks anak, di kota Jogja, serta kabupaten Sleman dan Bantul.
Direktur Program Yayasan Setara, Semarang, Tsanitus Solihah menandaskan, pada realitanya anak-anak memang selalu dekat dan rentan pada kekerasan dan eksploitasi. “Kekerasan terjadi di lingkungan terdekat, sekolah maupun keluarga. Anak juga rentan terhadap penjerumusan ke prostitusi dan perdagangan untuk tujuan seksual,” katanya. (rul).

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan