Pemkot Jogja Raih Penghargaan Pastika Parama

IMG_20170723_175240
 Menkes Nila F Moeloek saat menyerahkan penghargaan ‘Pastika Parama’ kepada Sekda Kota Jogja Titik Sulastri. 
JOGJA – Pemerintah Kota Jogjakarta menerima penghargaan ‘Pastika Parama’ dari Menteri Kesehatan terkait keberhasilan dan komitmennya tentang penerapan KTR (Kawasan Tanpa Rokok). Menkes Nila F Moeloek menyerahkan penghargaan tersebut kepada Sekretaris Daerah Kota Jogjakarta, Titik Sulastri, di The Alana Hotel & Covention Center, Jogjakarta, Rabu (12/7).
Titik sangat mengapresiasi prestasi itu. “Hal itu merupakan bukti keberhasilan penerapan KTR oleh pemerintah kota melalui Dinas Kesehatan,” ujarnya usai menerima penghargaan.
Pastika Parama merupakan penghargaan tertinggi dari Kemenkes untuk daerah yang telah menetapkan KTR. Kota Jogjakarta telah berhasil menerapkan KTR di delapan kawasan, sesuai Perda No 2/2017 tentang KTR.

Perda KTR sangat membantu dalam mengatur perilaku merokok bagi warga kota. Perda itu dinilai berpengaruh dan berhasil meningkatkan pemahaman warga tentang batasan kawasan bebas asap rokok. “Yang dinilai bukan daerah itu sudah bebas rokok dari warganya, tapi bagaimana warga merokok pada tempat yang sudah ditetapkan,” tandas Titik.
Keberadaan Perda KTR, imbuhnya, merupakan upaya pemkot yang ingin melindungi warganya dari bahaya yang ditimbulkan akibat rokok. “Pilihan ini didasari semangat dan keyakinan, proses mencegah penyakit jauh lebih baik dibandingkan mengobati,” katanya.
Kadinkes Kota Jogja, Fita Yulia Kisworini menjelaskan, penghargaan tersebut merupakan apresiasi  dari Kemenkes kepada daerah-daerah yang berkomitmen menerapkan kawasan tanpa rokok. “Kita patut bangga dengan adanya penghargaan tersebut karena kita memiliki aturan daerah dan menerapkan aturannya. Ada daerah yang miliki perda, namun tidak mengimplementasikan,” ungkapnya.
Dinkes Kota Jogja, tandasnya, memang sangat berkomitmen dalam mensosialisasikan Perda No 2/2017  tentang KTR. “Sosialisasi selalu dilakukan dalam rangka melindungi masyarakat dari bahaya asap rokok yang dikeluarkan oleh perokok aktif,” papar Yulia.
Sosialisasi dilakukan dengan cara turun langsung ke sejumlah titik seperti sekolah, hotel, mal, dan tempat umum lain. “Melalui sosialisasi KTR itu kita berharap bisa meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat,” katanya.
Pemerintah, menurut Yulia, merupakan faktor penentu dalam keberhasilan dan kepatuhan pelaksanaan KTR. Tanpa adanya contoh atau keteladan dari aparat pemerintah, masyarakat akan cenderung tidak peduli.
“Aparat pemerintah dan masyarakat harus paham bahwa asap rokok memberi dampak bahaya kesehatan kepada orang lain. Dengan mematuhi KTR akan terbentuk norma baru yang sehat dan lebih bermartabat,” tandas Yulia. (rul)

 

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan