Penderita TBC di Indonesia Cukup Tinggi

JOGJA (jurnaljogja) – Di Indonesia, jumlah penduduk yang terinfeksi tuberkulosis (TBC) setiap tahunnya tinggi. Data menyebutkan, 10 hingga 30 orang dari 1.000 orang terinfeksi penyakit itu.

“Jumlah orang yang terinfeksi TBC di Indonesia cukup tinggi dan menempatkan Indonesia masuk 4 besar negara dengan penderita TBC terbanyak di dunia,” kata Ahli Mikrobiologi Klinis Fakultas Kedokteran UGM Jogjakarta, dr Titi Nuryastuti, MSi, PhD, SpMK di kampus setempat, Rabu (23/3).

Menurut dia, TBC merupakan penyakit menular yang menjadi penyebab kematian kedua setelah HIV/AIDS. Karenanya upaya pemberantasan TBC harus terus digalakkan guna menekan pertambahan jumlah kasus infeksi baru. Ini mengingat jumlah pendirita TBC di Indonesia terus bertambah seiring dengan semakin meningkatnya penderita HIV/AIDS, diabetes militus dan penyakit lain yang berkaitan dengan sistim imun.

Lulusan doktor dari University of Groningen, Belanda ini menjelskan, upaya pencegahan penularan TBC bisa dilakukan menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat, seperti tidak merokok dan meningkatkan kebersihan lingkungan. Bagi penderita TBC diupayakan agar selalu menggunakan masker agar saat batuk atau bersin tidak ada keluarga dan orang di sekeliling yang tertular. Selain tidak meludah di sembarang tempat. “Usahakan untuk menampung dahak di tempat yang tertutup dan tidak membuangnya di sembarang tempat,” sarannya berkait dengan peringatan Hari TBC se-dunia yang jatuh setiap 24 Maret.

Penyakit TBC disebabkan oleh Mycobacterium Tubercolosa. Penularan bisa terjadi melalui cairan ludah penderita TBC saat berbicara, meludah, batuk maupun bersin. Gejala yang muncul seperti batuk secara terus-menerus dalam jangka waktu lama, kadang dahak yang keluar bercampur darah, berkeringat di malam hari -walapun tanpa aktivitas, sesak nafas dengan nyeri di dada, serta terjadi penurunan berat badan.

Menurutnya penting bagi masyarakat untuk memastikan status diri akan TBC. Hal ini perlu dilakukan mengingat Indonesia menjadi negara yang sangat berisiko terhadap TBC. Untuk memastikan apakah seseorang terkena TBC, dapat dilakukan pemeriksaan dahak. Apabila hasilnya positif, maka sebaiknya melakukan terapi TBC secara kontinu. Pengobatan TBC dapat dilakukan di puskesmas, rumah sakit dan BP4 secara gratis.

Penyakit ini bisa dicegah dan disembuhkan. Pencegahan dengan memutus rantai penularan, melalui pengobatan hingga sembuh total. Penyakit ini dapat disembuhkan dengan menjalani pengobatan secara teratur hingga dinyatakan sembuh, dengan waktu pengobatan berkisar 6-8 bulan. (bam)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan