Pendidikan Al-Azhar Pengaruhi Pendidikan Di Aceh

IMG_20160801_192006

 

JOGJA (jurnaljogja.com) – Pendidikan Islam al-Azhar Mesir yang diperoleh Abu Teupin Raya, yang  kemudian ditransformasikan sangat mempengaruhi sistem pendidikan di Aceh.
Demikian disampaikan Dosen Sejarah Pendidikan Islam STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) Malikussaleh Lhokseumawe Aceh, Al Husaini M Daud Ibrahim saat mempertahankan disertasi untuk meraih derajat doktor pada Program Studi Agama dan Lintas Budaya Minat Kajian Timur Tengah, di Sekolah Pascasarjana UGM Jogjakarta, Senin (1/8).
Menurut dia, berdasarkan karya-karya tekstual Abu Teupin Raya, proses transformasi pendidikan Islam al-Azhar Mesir di Aceh secara operasional diaktualisasikan melalui beberapa saluran pendidikan yang tak saja berimplikasi pada perubahan paradigma pendidikan, tetapi juga berakibat pada sistem dan praktik pendidikan.
Implikasi positifnya itu tak semata terhadap perubahan paradigma pada pendidikan Islam, tetapi juga terhadap manajemen lembaga pendidikan, sistem administrasi keuangan, kurikulum pendidikan dan metode pembelajaran. Bahkan, terhadap sistem pengelolaan wakaf.
Proses pencerahan masyarakat sejak awal kemunculan Islam di bumi Aceh, kata Husaini, diselenggarakan oleh lembaga pendidikan dayah yang secara murni bertahan hingga tahun 1903 Masehi, ketika kolonial Belanda memperkenalkan sistem pendidikan bercorak sekuler. “Sebelumnya, tidak ada satu pun institusi pendidikan lain di Aceh, selain lembaga pendidikan dayah,” tuturnya.
Dalam  disertasi bertajuk ‘Transformasi Pendidikan Islam Al-Azhar Mesir Di Aceh: Kajian Sejarah Pemikiran Abu Teupin Raya’ juga disinggung, terminologi dayah bagi masyarakat di Aceh, sebagaimana eksistensi istilah pesantren salafiyah bagi masyarakat Jawa. “Dayah telah mendidik rakyat Aceh pada masa lalu. Sehingga ada yang mampu menjadi raja, menteri, panglima militer, ulama, ahli teknologi perkapalan, pertanian, kedokteran, dan lainnya,” sebutnya.
Menurut promovendus, eksistensi institusi dayah di tengah-tengah kehidupan masyarakat telah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari proses pencerahan keilmuan dan teknologi,  seiring proses perkembangan Islam di Aceh. Dan, lanjutnya,  perkembangan institusi pendidikan dayah terus berlanjut hingga era abad XX M. Dengan semakin giatnya putera-putera Aceh yang menuntut ilmu agama ke Timur Tengah, seperti Mekkah dan Madinah, termasuk Mesir.
“Muhammad Ali Irsyad yang selanjutnya dikenal dengan Abu Teupin Raya atau Abu Lampoh Pala, merupakan salah seorang putera Aceh yang melakukan perjalanan ilmiah ke Negeri Mesir ketika itu,” katanya.
Setelah berpindah-pindah dari satu dayah ke dayah lain di Aceh, tutur Husain, Abu Teupin Raya selanjutnya meneruskan proses belajar dan kemudian  ke Mesir pada 1961. “Usai kembali ke Aceh dari perantauan dalam menuntut ilmu, atmosfir keilmuan di Negeri Seur Meukah,  kian semarak dan semakin gemerlap.” (bam/rul)

CopyRight @ Jurnal Jogja 2016 | Tentang Kami | Kontak Kami | Iklan